PSPK – 14 April 2026 | Depok, Jawa Barat – Zulanda, seorang santriwati berusia 20 tahun dari pesantren Al-Muttaqin, Depok, dinyatakan hilang pada awal Februari 2026 setelah tidak kembali dari kunjungan keluarga di Kota Depok. Kasus yang sempat memicu kekhawatiran luas ini akhirnya terpecahkan pada tanggal 10 April 2026 ketika tubuhnya berhasil diidentifikasi di sebuah rumah sewa di Surabaya, Jawa Timur.
Awal Kejadian dan Laporan Kehilangan
Pada 3 Februari 2026, Zulanda meninggalkan pesantren untuk menjemput adik perempuan yang tinggal di daerah Cibubur. Ia dijadwalkan kembali ke pesantren pada malam harinya, namun tidak muncul. Upaya menghubungi melalui nomor telepon dan aplikasi pesan tidak membuahkan hasil. Keluarga melaporkan kehilangan kepada Polri pada 5 Februari, menambahkan bahwa santriwati tersebut tidak membawa identitas resmi serta dompetnya tertinggal di pesantren.
Upaya Pencarian dan Jejak Tersisa
Polisi melakukan pencarian intensif dengan memanfaatkan rekaman CCTV di beberapa titik strategis di Depok dan sekitarnya. Rekaman menunjukkan bahwa Zulanda terakhir kali terlihat mengendarai sepeda motor Honda Beat berwarna hitam, melintasi Jalan Raya Bogor pada pukul 18.30 WIB. Setelah itu, tidak ada jejak digital yang dapat dilacak, mengingat ponselnya tidak aktif.
Kasus ini mengingatkan pada insiden serupa yang terjadi beberapa minggu sebelumnya, yakni penemuan mayat seorang mahasiswa Jepara berusia 29 tahun di dalam mobil BRV yang terparkir di Condongcatur, Sleman. Mahasiswa tersebut dilaporkan hilang sejak 5 Maret 2026 dan ditemukan tewas sebulan kemudian. Polri kini menegaskan bahwa kedua kasus tersebut sedang diselidiki secara terpisah, namun menambah kekhawatiran akan adanya pola kriminalitas terhadap orang muda yang hilang secara misterius.
Penemuan di Surabaya
Pada 9 April 2026, warga sekitar kawasan Sawahan, Surabaya, melaporkan adanya mobil sedan berwarna abu-abu yang terparkir lama di sebuah gang sempit. Saat polisi memeriksa kendaraan, ditemukan mayat perempuan berusia 20 tahun dengan pakaian santri lengkap. Identifikasi dilakukan melalui sidik jari dan perbandingan data DNA dengan keluarga Zulanda, yang kemudian mengonfirmasi identitas korban.
Lokasi penemuan berada sekitar 30 kilometer dari Depok, menimbulkan pertanyaan mengenai jalur pergerakan korban. Barang-barang pribadi yang ditemukan di dalam mobil meliputi tas kecil berisi buku catatan harian, satu set jilbab, serta ponsel yang masih terkunci.
Investigasi dan Motif yang Diduga
Polisi Depok dan Surabaya membentuk tim gabungan untuk menyelidiki kasus ini. Kepala Divisi Investigasi Kriminal Polresta Depok, Irjen Pol Argo Anggoro, menyatakan bahwa fokus utama penyelidikan adalah mencari jejak transaksi finansial, riwayat pertemanan daring, serta potensi keterlibatan jaringan perdagangan manusia.
Sementara itu, tim forensik mengumpulkan bukti biologis dari tempat kejadian. Hasil sementara menunjukkan tidak ada tanda-tanda perlawanan fisik yang signifikan, namun terdapat luka memar pada lengan kanan yang kemungkinan terjadi saat korban dipaksa masuk ke dalam kendaraan.
Reaksi Keluarga dan Masyarakat
Keluarga Zulanda mengungkapkan rasa duka mendalam sekaligus kebingungan atas nasib tragis putri mereka. “Kami tidak pernah membayangkan bahwa ia akan berakhir seperti ini. Kami berharap pihak berwenang dapat segera menemukan pelaku dan memberikan keadilan,” ujar ayahnya dalam pernyataan resmi.
Berbagai kalangan masyarakat, termasuk tokoh pesantren dan aktivis hak perempuan, menyerukan peningkatan pengamanan bagi pelajar, terutama yang melakukan perjalanan jauh tanpa pendamping. Beberapa organisasi non‑pemerintah menyiapkan layanan bantuan psikologis bagi keluarga korban dan mengkampanyekan pentingnya pelaporan dini bila terjadi kehilangan.
Langkah Selanjutnya
Polisi menargetkan penyelesaian penyelidikan dalam dua minggu ke depan, dengan fokus pada penelusuran jaringan transportasi ilegal yang beroperasi antara Jawa Barat dan Jawa Timur. Pengumpulan data CCTV tambahan, analisis jejak digital, serta pemeriksaan saksi mata di kedua kota diharapkan dapat mempercepat penangkapan tersangka.
Kasus Zulanda menambah deretan tragedi kehilangan muda yang berakhir fatal, mengingatkan pentingnya koordinasi lintas daerah dalam penanganan kasus orang hilang. Pemerintah daerah Depok telah berjanji meningkatkan sistem monitoring pelajar, termasuk penggunaan aplikasi pelacakan resmi yang dapat diakses oleh orang tua dan institusi pendidikan.
Dengan proses hukum yang sedang berjalan, harapan besar masyarakat tetap pada keadilan bagi Zulanda dan upaya pencegahan kasus serupa di masa depan.












