Project Seru Penuh Kejutan

Puluhan Petani Karet di Mesuji Jadi Korban Pencurian, Warga Tuntut Tindakan Polisi

June 1, 2026 • 0 Views
Puluhan Petani Karet di Mesuji Jadi Korban Pencurian, Warga Tuntut Tindakan Polisi
Puluhan Petani Karet di Mesuji Jadi Korban Pencurian, Warga Tuntut Tindakan Polisi

PSPK – 01 Juni 2026 | Puluhan petani karet di Dusun Talang Gunung, Desa Talang Batu, Kecamatan Mesuji Timur, melaporkan aksi pencurian getah karet yang terus berulang, menimbulkan kerugian kolektif lebih dari Rp100 juta dan memicu desakan warga agar aparat kepolisian setempat melakukan penindakan tegas.

Menurut saksi utama, Rangga (30), kehilangan getah karet sudah dialami sekitar sepuluh kali dalam beberapa minggu terakhir. Pada Senin, 16 Februari 2026, pukul 06.00 WIB, ia kembali menemukan wadah sadapan kosong saat hendak mengumpulkan hasil kebun. “Getah karet itu kami harapkan untuk membeli beras dan kebutuhan rumah tangga, namun sebelum sempat dijual sudah diambil pencuri,” kata Rangga dengan nada kecewa.

Kasus serupa juga diceritakan oleh petani berusia 55 tahun, Prabu, yang menegaskan pencurian ini bukan fenomena baru. Ia mengaku pernah melihat orang yang dicurigai mencuri, namun takut melaporkan karena risiko konfrontasi dan keterbatasan sumber daya. “Kami sering melihat, tetapi tidak berani bertindak,” ujarnya.

Data yang dihimpun oleh kelompok petani menunjukkan bahwa dalam satu bulan terakhir, setidaknya 20 warga mengalami kehilangan getah karet. Kerugian per kepala diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah, padahal harga karet di tingkat petani saat ini berada pada kisaran Rp19.200 per kilogram. Dengan volume produksi yang terhambat, pendapatan bulanan mereka turun drastis, memperparah ketergantungan pada hasil pertanian.

Aspek Keterangan
Total kerugian lebih dari Rp100 juta
Harga karet petani Rp19.200/kg
Korban bulan terakhir sekitar 20 warga
Rata‑rata kerugian per petani puluhan juta rupiah

Kerugian finansial ini tidak hanya menurunkan daya beli keluarga petani, tetapi juga berdampak pada ekonomi mikro desa. Penurunan pendapatan memicu penurunan konsumsi barang pokok, mengurangi sirkulasi uang di pasar lokal, dan menurunkan kemampuan warga untuk berkontribusi pada pajak daerah. Di sisi lain, produsen karet menengah ke atas merasakan tekanan suplai, karena sebagian besar produksi karet di Lampung, termasuk Mesuji, berasal dari kebun kecil yang kini terancam kehilangan hasil panen.

Pihak berwenang Kabupaten Mesuji hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai langkah penanggulangan. Warga menuntut adanya tim penyidik khusus yang dapat memetakan pola pencurian, mengidentifikasi jaringan kriminal, dan melakukan penangkapan. Mereka juga mengusulkan pemasangan kamera pengawas (CCTV) di titik-titik rawan, serta peningkatan patroli keamanan pada jam-jam kritis, khususnya sebelum matahari terbit ketika petani biasanya menyiapkan sadapan.

  • Mengirimkan tim penyidik khusus ke Dusun Talang Gunung.
  • Meningkatkan patroli keamanan di area kebun karet, terutama pada dini hari.
  • Mengadakan sosialisasi prosedur pelaporan yang mudah dan aman bagi petani.
  • Memasang kamera pengawas di lokasi rawan pencurian untuk memperkuat bukti visual.

Pengalaman serupa telah tercatat di beberapa daerah lain di Sumatera Selatan, di mana pencurian hasil pertanian menjadi modus operandi kelompok kriminal yang memanfaatkan jaringan pasar gelap. Analisis kepolisian nasional menyebutkan bahwa kejahatan pertanian, termasuk pencurian karet, seringkali terkait dengan konflik lahan dan persaingan antar kelompok yang mencari sumber pendapatan cepat.

Dalam konteks yang lebih luas, kenaikan harga karet internasional pada akhir 2025 memberikan peluang ekonomi bagi petani, namun sekaligus meningkatkan insentif bagi pelaku kejahatan. Menurut data Badan Pusat Statistik, produksi karet Indonesia pada kuartal pertama 2026 naik 4,2 % dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan potensi pendapatan yang lebih tinggi bila tidak terganggu oleh aksi kriminal.

Jika tidak ditangani secara serius, pencurian ini dapat memperparah migrasi tenaga kerja dari sektor pertanian ke kota, mempercepat urbanisasi, dan mengurangi ketersediaan bahan baku bagi industri karet domestik. Dampak jangka menengah meliputi penurunan produksi nasional, kenaikan harga bahan baku bagi manufaktur ban, serta potensi penurunan ekspor.

Petani yang terlibat dalam aksi protes damai di balai desa pada tanggal 30 Mei 2026 menyampaikan surat resmi kepada Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Mesuji, menuntut agar kasus ini menjadi prioritas. Mereka menegaskan kesiapan untuk bekerja sama dengan aparat, termasuk menyediakan saksi, rekaman video dari smartphone, serta data log produksi sebagai bukti pendukung.

Sejauh ini, langkah-langkah konkret yang diharapkan meliputi:

  • Pembentukan gugus tugas gabungan antara kepolisian, Dinas Pertanian, dan Badan Penanggulangan Bencana (jika diperlukan) untuk mengawasi kebun karet.
  • Penyediaan bantuan teknis bagi petani dalam mengamankan hasil sadapan, misalnya penggunaan kontainer berlapis atau sistem kunci digital.
  • Pengembangan program pelatihan keamanan komunitas yang melibatkan tokoh adat setempat.

Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan, dari pemerintah daerah, aparat keamanan, hingga komunitas petani, diharapkan pencurian karet dapat ditekan secara signifikan. Keberhasilan penindakan tidak hanya akan mengembalikan kepercayaan petani, tetapi juga memperkuat stabilitas ekonomi pertanian di wilayah Mesuji secara keseluruhan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *