Project Seru Penuh Kejutan

Keluarga soal Bidan Dibunuh di Situbondo Suami Cemburuan, Sering Lacak HP

June 7, 2026 • 0 Views
Keluarga soal Bidan Dibunuh di Situbondo Suami Cemburuan, Sering Lacak HP
Keluarga soal Bidan Dibunuh di Situbondo Suami Cemburuan, Sering Lacak HP

PSPK – 07 Juni 2026 | Keluarga Murtafia Rafika Devi (34), seorang bidan yang tewas dibunuh oleh suaminya sendiri di Desa Blitok, Kecamatan Bungatan, Situbondo, Jawa Timur, menangis histeris di RSUD Abdoer Rahem Situbondo pada Minggu (7/6/2026) pukul 10.30 WIB. Mereka tidak menyangka Devi meregang nyawa di tangan pasangan hidupnya sendiri. Peristiwa tragis ini mengguncang keluarga besar korban dan warga sekitar, sekaligus membuka tabir kekerasan dalam rumah tangga yang berujung kematian.

Bude korban, Sunarsih (50), mengungkapkan bahwa pelaku dikenal memiliki sifat cemburu yang berlebihan. Pelaku bahkan kerap melacak ponsel korban untuk memantau aktivitasnya. “Orangnya pencemburu buta. Kalau ada nomor handphone baru di ponsel korban, pasti langsung dilacak. Bahkan menantu saya yang kebetulan sama-sama bekerja di RSUD juga sempat dicemburui oleh dia,” kata Sunarsih di RSUD Abdoer Rahem Situbondo. Pernyataan ini menunjukkan bahwa kecemburuan suami korban sudah menjadi pola yang diketahui oleh keluarga dekat.

Adik korban, Hariza Dinina Belinda Putri Alda Dinova, mengaku tidak ikhlas dengan kepergian kakak kandungnya. “Saya tidak ikhlas,” ucapnya sambil menyeka air mata di RSUD Abdoer Rahem Situbondo. Perasaan kehilangan dan ketidakadilan mendalam dirasakan keluarga, mengingat Devi dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tertutup mengenai masalah rumah tangganya.

Belinda menuturkan bahwa dalam dua bulan terakhir, sang kakak sebenarnya sudah tinggal di rumah orang tua mereka di Desa Blitok, Kecamatan Bungatan. “Sudah dua bulan tinggal di rumah bapak. Namun, kami tidak tahu apakah di luar mereka masih sering bertemu atau tidak, karena setiap kali berpamitan, almarhumah selalu bilang mau pergi kerja,” ungkap Belinda. Hal ini mengindikasikan bahwa korban telah berusaha menjauh dari suaminya, meskipun komunikasi di antara mereka masih berlangsung secara terbatas.

Di balik kepergiannya yang tragis, Belinda mengenang sebuah pesan mendalam dari bidan RSUD Besuki tersebut. Almarhumah sempat menitipkan sebuah curhatan sekaligus peringatan agar adiknya tidak mengalami nasib rumah tangga yang sama. “Almarhumah sempat menyampaikan kepada saya, ‘Semoga kamu tidak dapat suami seperti Mbak’,” kenang Belinda lirih. Pesan ini menjadi pengingat pahit bahwa Devi telah lama merasakan ketidakbahagiaan dalam pernikahannya, namun ia memilih bungkam.

Selama ini, korban dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup mengenai masalah rumah tangganya. Meski Belinda sudah berulang kali menasihati korban untuk menyudahi hubungan dengan suaminya, korban lebih sering memilih diam. “Orangnya selalu diam, kalau ditanya hanya diam. Padahal saya sudah berkali-kali mengingatkan untuk meninggalkan suaminya,” tambahnya. Sikap tertutup ini kerap menjadi kendala bagi keluarga untuk memberikan bantuan tepat waktu, terutama dalam kasus KDRT yang sering kali tersembunyi.

Pelaku sendiri telah menyerahkan diri ke polisi dan kini ditahan untuk dimintai keterangan. Penyerahan diri ini memudahkan proses hukum, meskipun keluarga korban tetap menuntut keadilan atas kematian Devi. Kasus ini menambah panjang daftar kekerasan dalam rumah tangga yang berakhir dengan pembunuhan di Indonesia, di mana korban sering kali adalah perempuan yang tidak berdaya.

Menurut data Komnas Perempuan, kasus KDRT di Indonesia masih tinggi, dengan banyak korban enggan melapor karena rasa malu, ancaman, atau ketergantungan ekonomi. Dalam kasus ini, Devi yang berprofesi sebagai bidan sebenarnya memiliki kemandirian finansial, namun tetap terjebak dalam hubungan yang abusive. Psikolog forensik menyebutkan bahwa korban KDRT sering kali mengalami ‘trauma bonding’ atau ikatan trauma yang membuat mereka sulit meninggalkan pasangan meskipun sudah disakiti.

Masyarakat Situbondo dan sekitarnya turut berduka atas kepergian Devi. Rekan-rekan kerjanya di RSUD Besuki menggambarkan Devi sebagai tenaga kesehatan yang teliti dan penyayang. “Dia selalu ramah kepada pasien, tidak pernah menunjukkan masalah pribadinya di tempat kerja,” ujar salah seorang kolega yang enggan disebut namanya. Kepergian Devi meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga tetapi juga bagi para pasien yang kehilangan bidan andalan.

Proses hukum terhadap pelaku masih berjalan. Polres Situbondo telah mengamankan barang bukti dan memeriksa saksi-saksi, termasuk keluarga korban. Pelaku dijerat dengan Pasal 338 KUHP tentang pembunuhan dengan ancaman hukuman penjara maksimal 15 tahun. Namun, keluarga korban berharap pelaku dijerat dengan pasal yang lebih berat mengingat adanya unsur kekerasan dalam rumah tangga sebagaimana diatur dalam UU PKDRT.

Kasus ini menjadi pengingat bagi semua pihak untuk lebih peka terhadap tanda-tanda KDRT di lingkungan sekitar. Keluarga, teman, dan rekan kerja diharapkan tidak ragu untuk memberikan dukungan atau melaporkan indikasi kekerasan kepada pihak berwenang. Bagi korban yang masih bertahan, penting untuk mencari bantuan dari lembaga layanan seperti Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) atau hotline pengaduan KDRT.

Dengan terungkapnya fakta bahwa pelaku sering melacak ponsel korban, kasus ini juga menyoroti penyalahgunaan teknologi dalam hubungan. Pelaku menggunakan akses terhadap ponsel korban sebagai alat kontrol dan intimidasi. Hal ini menunjukkan bahwa KDRT tidak hanya berbentuk fisik, tetapi juga psikologis dan digital. Edukasi mengenai batasan privasi dan kesehatan hubungan perlu ditingkatkan, terutama di era digital saat ini.

Hingga berita ini diturunkan, keluarga korban masih berupaya mengikhlaskan kepergian Devi. Mereka berharap proses hukum berjalan transparan dan pelaku mendapat hukuman setimpal. Sementara itu, jenazah Devi telah dimakamkan di pemakaman umum Desa Blitok dengan pengawalan ketat dari warga dan keluarga. Kasus ini meninggalkan luka mendalam, namun juga menjadi momentum untuk mendorong pencegahan KDRT yang lebih efektif di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *