PSPK – 24 April 2026 | Jakarta – Tragedi penembakan yang menewaskan Nus Kei, keponakan bos narkoba John Kei, kembali mencuat setelah terungkap fakta-fakta mengejutkan tentang pelaku, Hendrikus Rahayaan. Menguak latar belakangnya, kronologi aksi, serta tawaran kerja menggiurkan senilai satu miliar rupiah, publik kini menanti penjelasan resmi.
Latar Belakang Hendrikus Rahayaan
Hendrikus, yang dikenal sebagai mantan petarung MMA, memiliki catatan kekerasan sejak masa sekolah dasar. Rekam jejaknya menunjukkan sering terlibat perkelahian di lingkungan sekolah, bahkan sempat dipenjara karena aksi kekerasan yang melanggar hukum. Setelah keluar dari penjara, ia kembali ke dunia tinju dan seni bela diri, meniti karier sebagai atlet MMA di sejumlah turnamen lokal.
Kronologi Penyerangan
Pada malam 20 Januari 2024, Hendrikus dilaporkan mengunjungi kediaman Nus Kei di kawasan Jakarta Selatan. Menurut saksi, sebelum melancarkan serangan, pelaku sempat bertemu dengan seorang wanita muda yang diduga merupakan pacarnya. Pertemuan singkat itu berlangsung dalam suasana romantis, namun di balik itu terdapat persiapan matang. Tak lama kemudian, Hendrikus menembakkan sejumlah peluru ke arah Nus Kei, menewaskannya di tempat.
Tawaran Kerja Rp 1 Miliar
Informasi yang paling mengejutkan datang dari pengakuan saksi dekat Hendrikus. Sebelum melakukan aksi, pelaku menerima tawaran pekerjaan yang menjanjikan imbalan satu miliar rupiah. Tawaran tersebut dikabarkan berasal dari pihak yang berkepentingan dengan persaingan bisnis John Kei. Hendrikus sempat ragu, namun pada akhirnya memutuskan untuk melaksanakan rencana tersebut, menggabungkan motivasi finansial dengan dendam pribadi.
Reaksi Keluarga dan Publik
Keluarga Nus Kei, termasuk John Kei, menolak keras spekulasi mengenai motif finansial. Mereka menegaskan bahwa pembunuhan ini lebih bersifat balas dendam pribadi yang dipicu persaingan kriminal di bawah tanah. Di media sosial, netizen ramai memperdebatkan apakah tawaran satu miliar itu nyata atau sekadar taktik mengalihkan sorotan. Sementara itu, pihak kepolisian tetap menelusuri jaringan yang memberi dukungan logistik kepada Hendrikus.
Kasus ini menambah catatan panjang konflik kekerasan di kalangan mafia narkoba Indonesia, di mana perebutan wilayah dan pengaruh kerap berujung pada tindakan brutal. Penyelidikan lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap seluruh jaringan yang terlibat, termasuk sumber dana yang menawarkan Rp 1 miliar kepada pelaku.
Dengan latar belakang yang sarat pertaruhan, mulai dari perkelahian sejak SD hingga tawaran kerja bernilai miliaran, tragedi ini menjadi cermin gelap dunia kriminal yang masih merambah ke lapisan masyarakat luas.












