PSPK – 11 Maret 2026 | Video yang baru dirilis pada Minggu lalu menambah bukti kuat bahwa rudal jelajah Tomahawk milik Amerika Serikat menghantam sebuah sekolah dasar di kota Minab, provinsi Hormozgan, Iran, menewaskan ratusan korban, termasuk anak-anak. Rekaman tersebut diunggah oleh kantor berita semi‑resmi Iran, Mehr News Agency, dan telah diverifikasi secara independen oleh The New York Times serta kelompok riset Bellingcat.
Detail Serangan dan Verifikasi Visual
Menurut laporan The New York Times, video menunjukkan rudal Tomahawk meluncur dari kapal perang Angkatan Laut AS dan menabrak pangkalan Angkatan Laut Iran yang berdekatan dengan Sekolah Dasar Shajarah Tayyebeh pada 28 Februari 2026. Pada detik‑detik awal, kamera menyorot jalan setapak berumput dan tumpukan puing yang kemudian muncul dalam citra satelit beresolusi tinggi, menegaskan lokasi pengambilan gambar. Setelah rudal menghantam bangunan yang diidentifikasi sebagai klinik medis di pangkalan IRGC, asap tebal dan puing‑puing meluncur ke udara, diikuti oleh suara teriakan dari sekitar sekolah.
Analisis frame‑by‑frame mengungkapkan bahwa rudal yang terlihat memiliki ciri khas fisik Tomahawk: panjang sekitar 20 kaki, sayap berukuran delapan setengah kaki, serta hulu ledak berdaya ledak sekitar 136 kilogram TNT. Pakar militer seperti Chris Cobb‑Smith dari Chiron Resources dan mantan teknisi penjinak bahan peledak Trevor Ball, yang bekerja dengan Bellingcat, menegaskan identifikasi tersebut.
Korban Jiwa dan Dampak Kemanusiaan
Serangan tersebut menewaskan minimal 175 orang, termasuk 110 anak-anak, menurut laporan Kompas dan BBC. Sekolah Shajarah Tayyebeh, yang selama delapan tahun terakhir berfungsi secara terpisah dari fasilitas militer, masih menyimpan area bermain, mural warna‑warni, dan fasilitas pendidikan lainnya. Kehilangan massal ini menimbulkan kecaman luas dari lembaga hak asasi manusia; Human Rights Watch menyerukan penyelidikan mendalam atas dugaan kejahatan perang, sementara UNESCO menegaskan bahwa pengeboman terhadap fasilitas pendidikan merupakan pelanggaran hukum internasional yang serius.
Pernyataan Pemerintah AS dan Respons Internasional
Presiden Donald Trump pada 7 Maret 2026 menuduh Iran sebagai pihak yang melakukan serangan, menyatakan, “Menurut pendapat saya, berdasarkan apa yang telah saya lihat, itu dilakukan oleh Iran.” Klaim tersebut tidak disertai bukti konkret dan berseberangan dengan temuan awal Pentagon yang mengakui kemungkinan dampak tidak sengaja dari operasi mereka di wilayah selatan Iran.
Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut bahwa Pentagon sedang menyelidiki insiden, namun menegaskan bahwa “satu‑satunya pihak yang menargetkan warga sipil adalah Iran.” Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan, dalam konferensi pers pada 11 Maret 2026 mengonfirmasi bahwa pasukan AS melancarkan serangan di selatan Iran, termasuk daerah Minab, namun tidak secara eksplisit menyebutkan penargetan sekolah.
Reaksi Global dan Analisis Strategis
Berita ini memicu gelombang protes internasional. Negara‑negara Eropa dan organisasi PBB menyerukan gencatan senjata segera dan permintaan pertanggungjawaban. Sementara itu, para analis militer menyoroti penggunaan rudal Tomahawk yang biasanya diprogram dengan rencana penerbangan khusus, menandakan bahwa serangan tersebut bersifat terkoordinasi dan terarah.
Sejak 28 Februari, Angkatan Laut AS telah meluncurkan puluhan rudal Tomahawk dari kapal perang di Selat Hormuz, termasuk serangan ke fasilitas nuklir di Isfahan pada bulan Juni 2025. Operasi ini menandai eskalasi baru dalam konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran, serta menimbulkan pertanyaan tentang kebijakan penggunaan senjata presisi di wilayah padat penduduk.
Meski bukti teknis mengarah kuat ke AS, pernyataan Trump yang menolak keterlibatan AS memperlihatkan dinamika politik domestik Amerika, di mana upaya mengalihkan tuduhannya kepada Iran dapat memengaruhi persepsi publik menjelang pemilihan umum mendatang.
Dalam konteks hukum humaniter, serangan yang menimpa fasilitas pendidikan tanpa distingsi militer jelas melanggar Konvensi Jenewa. Penyelidikan independen oleh badan internasional diperlukan untuk menilai apakah ini merupakan pelanggaran sengaja atau kecelakaan dalam operasi militer.
Ke depan, tekanan diplomatik dan ekonomi terhadap Washington diperkirakan akan meningkat, sementara Tehran menegaskan kesiapan membalas serangan apa pun yang menargetkan kedaulatan nasionalnya.
Kasus ini menegaskan pentingnya transparansi dalam konflik modern, terutama ketika teknologi senjata canggih dapat menimbulkan kerugian sipil yang masif. Pengawasan media, verifikasi satelit, dan kolaborasi antara lembaga independen menjadi kunci untuk mengungkap kebenaran di tengah perang informasi yang sengit.
Dengan ribuan korban dan dampak psikologis yang mendalam bagi komunitas Minab, tragedi ini menjadi peringatan keras akan konsekuensi penggunaan senjata presisi di wilayah yang padat penduduk. Pengungkapan video terbaru memperkuat tuntutan internasional untuk akuntabilitas penuh, baik dari pihak AS maupun Iran, demi mencegah terulangnya tragedi serupa.










