PSPK – 08 Maret 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, pada Sabtu 7 Maret mengirimkan pernyataan tegas melalui platform media sosialnya, Truth, bahwa Iran akan “dihantam dengan sangat keras”. Trump menambahkan bahwa Amerika Serikat sedang mempertimbangkan tindakan penghancuran total terhadap wilayah dan kelompok yang selama ini belum menjadi target serangan.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyatakan bahwa negaranya tidak akan pernah menyerah kepada Israel dan Amerika Serikat. Pezeshkian juga meminta maaf kepada negara‑negara Teluk atas serangan rudal dan drone yang dilancarkan Tehran sebagai balasan atas kampanye militer AS‑Israel yang dimulai pada 28 Februari.
Dalam unggahannya, Trump menanggapi permintaan maaf Iran dengan menegaskan bahwa janji tersebut hanyalah reaksi terhadap serangan tanpa henti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai Iran bukan lagi “pengganggu Timur Tengah”, melainkan “pihak yang kalah” dan memperkirakan keadaan ini akan bertahan selama beberapa dekade hingga Iran menyerah atau runtuh.
Kombinasi tekanan militer dan diplomatik ini menambah ketegangan di kawasan Teluk, di mana Amerika Serikat dan sekutunya terus memperluas operasi untuk menetralkan ancaman dari Iran. Penguatan retorika Trump diperkirakan dapat memicu eskalasi lebih lanjut, termasuk kemungkinan penambahan target baru di wilayah tersebut.
Pengamat menilai bahwa pernyataan keras Trump dapat menjadi sinyal politik internal sekaligus upaya memperkuat posisi negosiasi Amerika Serikat di panggung internasional. Namun, risiko peningkatan konflik militer di Timur Tengah tetap tinggi, mengingat kedua belah pihak telah menunjukkan kesiapan untuk menggunakan kekuatan bersenjata.










