PSPK – 05 Maret 2026 | JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa kemampuan daya tampung bahan bakar minyak (BBM) nasional masih terbatas pada maksimal 25 hari. Ia menambahkan bahwa standar cadangan nasional yang dianjurkan berada pada rentang 20‑23 hari. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran publik, namun Bahlil menegaskan masalah utama bukan pada ketersediaan pasokan, melainkan pada keterbatasan fasilitas penyimpanan.
Kapasitas Penyimpanan Saat Ini
Sejak lama, infrastruktur storage BBM Indonesia hanya mampu menampung bahan bakar selama 21‑25 hari. Oleh karena itu, rata‑rata cadangan yang dapat dijamin secara nasional berada di kisaran 22‑23 hari. Bahlil menegaskan, “Bukan kita tidak punya cadangan untuk mengisi minyak, tapi sekarang mau taruh di mana? Storage kita belum memadai.”
Rencana Penambahan Storage
Presiden Prabowo Subianto telah memberi arahan kepada Bahlil untuk mempercepat pembangunan fasilitas storage baru, dengan target akhir meningkatkan cadangan nasional menjadi tiga bulan (90 hari). Salah satu lokasi yang sedang dipertimbangkan adalah wilayah Sumatera, yang dinilai strategis untuk menghubungkan jaringan pipa dan pelabuhan.
- Penambahan kapasitas storage diproyeksikan menambah maksimal 65 hari tambahan.
- Investor domestik dan asing, kecuali dari Amerika Serikat, telah menyatakan minatnya untuk berpartisipasi dalam proyek ini.
- Model pembangunan melibatkan kerjasama publik‑swasta (PPP) untuk mempercepat realisasi.
Dampak Konflik Timur Tengah
Konflik antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran serta ketegangan di Selat Hormuz menimbulkan risiko pada jalur impor minyak mentah. Sekitar 25 persen impor crude Indonesia berasal dari kawasan Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Pemerintah telah mengalihkan sebagian impor ke Amerika Serikat serta negara lain yang tidak terlibat dalam jalur tersebut, guna menjaga stabilitas pasokan.
Meski demikian, Bahlil mengakui bahwa bila konflik berlarut‑lurus, dampak pada rantai pasok global tidak dapat dihindari. “Kalau sampai dengan sekarang, belum terganggu, tapi kalau perangnya lama, pasti akan berdampak,” ujarnya.
Pendanaan dan Simulasi Fiskal
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa skenario fiskal telah dipersiapkan untuk menghadapi lonjakan harga minyak dunia. Simulasi menunjukkan bahwa meski harga crude naik hingga US$92 per barrel, anggaran negara masih mampu mengakomodasi pembelian energi tanpa mengganggu stabilitas ekonomi.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia di atas asumsi APBN 2026 (ICP US$70/bbl) memang menambah beban subsidi energi, namun juga meningkatkan pendapatan negara dari ekspor dan pajak migas.
Reaksi Publik dan Langkah Selanjutnya
Berbagai kalangan menilai langkah pemerintah untuk menambah storage sebagai upaya preventif yang tepat. Ekonom senior Tauhid Ahmad (Indef) menekankan pentingnya tidak hanya memperbanyak volume fisik, tetapi juga memperkuat dana cadangan, jaringan distribusi, dan infrastruktur pelabuhan.
Berita terbaru menyebutkan bahwa pembangunan storage minyak mentah (crude) akan melibatkan investor swasta, yang mencakup campuran modal dalam negeri dan luar negeri (tidak termasuk AS). Proyek ini diharapkan selesai dalam dua tahun, sehingga cadangan nasional dapat mencapai target tiga bulan sebelum akhir 2027.
Dengan langkah ini, pemerintah berharap dapat mengurangi ketergantungan pada jalur impor yang rentan, meningkatkan ketahanan energi, dan menurunkan risiko kelangkaan BBM selama periode kritis seperti Lebaran dan Natal.
Secara keseluruhan, meski cadangan BBM saat ini berada di batas minimal, kebijakan proaktif Bahlil dan dukungan Presiden Prabowo memberikan sinyal kuat bahwa Indonesia berupaya memperkuat ketahanan energi nasional melalui peningkatan kapasitas storage, diversifikasi sumber impor, dan penguatan fiskal.










