PSPK – 06 April 2026 | Seoul – Menteri Keuangan Korea Selatan, Koo Yun-cheol, bertemu dengan para duta besar negara‑negara Teluk pada Jumat, 5 April, untuk membahas upaya memperkuat keamanan energi dan keselamatan kapal Korea di perairan strategis Selat Hormuz.
Koo menekankan bahwa stabilitas pasokan minyak, gas alam cair (LNG), naphtha, urea, dan komoditas penting lainnya sangat krusial bagi perekonomian Korea Selatan. Ia mengingatkan bahwa konflik yang semakin memanas antara Iran dan koalisi internasional telah mengganggu pelayaran di selat tersebut sejak akhir Februari.
Para duta besar Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) menanggapi bahwa Korea Selatan merupakan “prioritas utama” dalam agenda mereka. Mereka berjanji akan meningkatkan koordinasi dengan Seoul untuk menjamin aliran energi yang terus menerus dan melindungi kapal serta awak Korea di wilayah tersebut.
Korea Selatan, seperti banyak negara Asia, sangat bergantung pada impor energi. Sekitar 20 % minyak dunia melintasi Selat Hormuz, menjadikannya jalur vital bagi keamanan energi global. Penutupan sebagian jalur air oleh Iran telah memicu lonjakan harga energi dan menimbulkan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi dunia.
Negara‑negara Anggota GCC
- Arab Saudi
- Uni Emirat Arab
- Qatar
- Kuwait
- Oman
- Bahrain
Dengan dukungan dari enam negara anggota GCC, diharapkan Korea Selatan dapat mengurangi risiko gangguan pasokan energi dan meningkatkan perlindungan kapal-kapalnya di zona yang rawan konflik. Langkah ini juga diharapkan dapat menstabilkan harga energi internasional dan menurunkan tekanan inflasi yang dirasakan banyak negara.
Upaya diplomatik ini mencerminkan pentingnya kerja sama lintas wilayah dalam menghadapi tantangan keamanan energi global, sekaligus menegaskan posisi Korea Selatan sebagai salah satu konsumen energi terbesar di Asia.










