Project Seru Penuh Kejutan
Berita  

Warga Aceh Tamiang Rayakan Idulfitri di Hunian Sementara, Tetap Jaga Tradisi Silaturahmi Meski Terpuruk Banjir

April 6, 2026 • 0 Views
Warga Aceh Tamiang Rayakan Idulfitri di Hunian Sementara, Tetap Jaga Tradisi Silaturahmi Meski Terpuruk Banjir
Warga Aceh Tamiang Rayakan Idulfitri di Hunian Sementara, Tetap Jaga Tradisi Silaturahmi Meski Terpuruk Banjir

PSPK – 06 April 2026 | Setelah hampir dua bulan bergulat dengan dampak banjir besar yang meluluhlantakkan akses jalan utama, warga Kampung Bundar, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, berhasil menggelar perayaan Idulfitri yang hangat di kawasan hunian sementara. Meskipun masih menempati tenda-tenda darurat dan rumah temporer, semangat kebersamaan serta tradisi silaturahmi tetap terjaga, menjadikan momen hari raya sebagai simbol harapan akan pulihnya kehidupan normal.

Kehidupan Sementara di Hunian Darurat

Setelah jembatan utama yang menghubungkan Komplek Perumahan Budi 1 runtuh akibat penggunaan alat berat tanpa kejelasan dana, puluhan kepala keluarga terpaksa menempuh jalur belakang yang sempit dan berisiko. Kondisi itu semakin memperparah saat hujan kembali mengguyur daerah, menjadikan tanah lumpur tak dapat dilalui oleh kendaraan roda dua maupun empat. Sebagai respons, pemerintah daerah, bersama Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabencana (PRR), menyalurkan 276 paket bantuan pokok, 276 paket perlengkapan ibadah, serta lima toren air berkapasitas dua ribu liter ke desa‑desa terdampak, termasuk Sekumur yang terisolir lima bulan.

Selama periode pembangunan hunian tetap (huntap) yang diproyeksikan memakan waktu tiga hingga empat bulan, warga menerima bantuan uang lauk pauk senilai Rp15.000 per orang per hari. Bantuan ini membantu mereka memenuhi kebutuhan dasar sambil menunggu penyelesaian infrastruktur permanen.

Upaya Pemerintah Memulihkan Infrastruktur

Para penyintas, dipimpin oleh Muhammad Hendra Vramenia, menuntut agar pemerintah segera mendirikan jembatan sementara yang dapat menampung kendaraan roda dua. Hendra menegaskan bahwa jembatan yang hancur masih dapat diperbaiki secara sederhana dengan membersihkan lumpur, namun keputusan untuk menghancurkannya secara total menambah beban akses utama warga. Ia menambahkan harapannya agar pemerintah pusat, provinsi, dan daerah memberikan kepastian waktu pembangunan jembatan sementara serta menyiapkan rencana jembatan permanen yang tidak berlarut‑larut.

Dalam kunjungan ke Sekumur pada 4 April 2026, Ketua Satgas PRR, Muhammad Tito Karnavian, menyampaikan bahwa koordinasi dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) serta pihak swasta akan mempercepat realisasi hunian komunal di lahan Hak Guna Usaha (HGU). “Jika permasalahan lahan sudah jelas, proses land clearing dapat segera dilaksanakan, kemudian pembangunan huntap dapat dimulai,” ujar Tito.

Tradisi Silaturahmi Tetap Hidup di Hari Raya

Hari Idulfitri menjadi momen penting bagi warga yang masih tinggal di hunian sementara. Pada malam takbiran, tenda‑tenda dihiasi kain berwarna, lampu minyak sederhana, dan aroma masakan tradisional yang dimasak bersama. Keluarga‑keluarga saling berbagi ketupat, opor, serta kue tradisional seperti klepon dan dodol, meski bahan bakunya terbatas.

“Kami tetap mengundang tetangga, walau hanya lewat jalan lumpur, karena silaturahmi adalah bagian tak terpisahkan dari budaya kami,” ujar Siti Nurhaliza, salah satu kepala keluarga di Kampung Bundar. Anak‑anak bermain di sekitar lapangan darurat, sementara para perempuan menyiapkan hidangan dengan bantuan air dari toren yang baru dipasang. Kegiatan salat Idulfitri pun dilaksanakan secara berjamaah di lapangan terbuka, dipimpin oleh imam setempat yang mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi cobaan.

Suasana haru terasa ketika warga menyalakan lampu minyak bersama, menandakan harapan bahwa cahaya itu akan kembali menyinari jalan‑jalan yang kini masih terputus. Mereka juga menuliskan doa di secarik kertas, mengharap agar jembatan sementara selesai dibangun sebelum musim hujan berikutnya.

Meski masih berada di zona darurat, perayaan Idulfitri ini menunjukkan ketangguhan mental warga Aceh Tamiang. Mereka tidak hanya menunggu bantuan, tetapi juga aktif berpartisipasi dalam upaya pemulihan, membersihkan jalur, serta menggalang dukungan lewat media sosial dan pertemuan warga.

Dengan dukungan pemerintah, lembaga kemanusiaan, serta semangat gotong‑royong, diharapkan akses utama akan kembali terbuka, hunian tetap selesai dibangun, dan tradisi silaturahmi tetap lestari di setiap kesempatan, termasuk hari‑hari raya yang akan datang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *