PSPK – 07 April 2026 | Kaliadem, desa kecil di lereng Gunung Merapi, kembali menjadi sorotan setelah lebih dari satu dekade sejak letusan dahsyat tahun 2010. Warga yang dulu terpaksa meninggalkan rumah karena lahar dan abu kini menata kembali kehidupan mereka dengan tekad yang tak tergoyahkan. Dari sekadar mengembalikan jejak kaki di tanah yang dulu berasap, mereka berhasil menciptakan ekosistem ekonomi berbasis peternakan sapi perah yang menghidupkan kembali harapan.
Sehari di Pagi yang Dingin
Pukul tiga dini hari, sebelum sinar matahari menyentuh puncak bukit, suara langkah para peternak sudah terdengar di jalan setapak menuju kandang. Rutinitas memerah susu menjadi denyut nadi ekonomi desa. Setiap tetes susu dikumpulkan, kemudian disetorkan ke koperasi desa untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, mulai dari susu pasteur hingga keju lokal. Siklus ini tidak hanya menghasilkan pendapatan, tetapi juga menegaskan kemandirian kolektif warga Kaliadem.
Jejak Bunker dan Semangat Gotong Royong
Desa ini memiliki sejarah yang tak terpisahkan dari Bunker Kaliadem, tempat perlindungan sementara saat letusan Merapi meluluhlantakkan rumah‑rumah penduduk pada 2010. Setelah bencana, warga memutuskan untuk tetap tinggal di daerah tersebut, membangun kembali rumah dan infrastruktur secara bersama‑sama. Tradisi gotong‑royong menjadi landasan; setiap minggu, warga bersatu membersihkan jalan, merapikan selokan, dan menata halaman rumah secara kolektif. Pada malam Jumat, pengajian rutin mempererat silaturahmi, sementara bulan Ramadan menambah semangat berbagi lewat program kenduri dan santunan masjid.
KKN Mahasiswa: Menguatkan Ketahanan Sosial
Kelompok mahasiswa KKN dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, dipimpin oleh Bilqis Shafa Aulia, menilai Kaliadem sebagai laboratorium hidup ketahanan sosial. Mereka terlibat dalam pengembangan produk olahan susu, pelatihan pemasaran, serta pendokumentasian cerita‑cerita warga. Pendekatan public relations yang mereka gunakan menekankan pada otentisitas, menampilkan nilai‑nilai kebersamaan yang sudah terpatri dalam budaya desa. Mahasiswa juga membantu memperluas jaringan pemasaran produk susu ke pasar regional, meningkatkan pendapatan peternak.
Rantai Nilai Ekonomi Desa
- Peternak memerah susu tiap pagi dan sore.
- Susu dikirim ke koperasi desa.
- Koperasi mengolah menjadi produk bernilai tambah.
- Produk dipasarkan ke pasar lokal dan kota terdekat.
- Pendapatan dibagi secara adil, memperkuat kesejahteraan rumah tangga.
Model ekonomi ini tidak hanya meningkatkan pendapatan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, seperti tenaga pemasaran, pengemasan, dan transportasi. Keberlanjutan usaha tergantung pada dukungan komunitas, kualitas produk, serta kemampuan adaptasi terhadap perubahan pasar.
Harapan di Masa Depan
Kaliadem kini menatap masa depan dengan optimisme. Rencana pembangunan infrastruktur air bersih, perbaikan jalan, dan pelatihan keterampilan bagi pemuda desa sedang dalam tahap perencanaan bersama pemerintah Kabupaten dan lembaga swadaya masyarakat. Desa ini juga menargetkan sertifikasi produk organik untuk membuka akses ekspor, menjadikan susu Kaliadem dikenal di tingkat nasional.
Ketangguhan warga Kaliadem membuktikan bahwa bencana bukanlah akhir, melainkan titik awal bagi proses rekonstruksi yang lebih kuat. Dari lumpur letusan, mereka menumbuhkan ladang harapan yang berbuah susu, kebersamaan, dan semangat pantang menyerah. Dengan kolaborasi antara warga, akademisi, dan pemerintah, desa ini menegaskan bahwa rumah bukan sekadar bangunan, melainkan jiwa kolektif yang tetap hidup meski diterpa badai.












