PSPK – 04 April 2026 | Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali meningkatkan retorika militernya dengan menyatakan bahwa serangan AS ke Iran belum mencapai puncaknya. Pada 2 April, Trump menulis di media sosial bahwa militer Amerika “bahkan belum mulai menghancurkan apa yang tersisa di Iran” dan menargetkan infrastruktur penting seperti jembatan dan pembangkit listrik. Ia menekankan bahwa kepemimpinan Iran harus bertindak cepat.
Serangan udara gabungan AS‑Israel yang dimulai hampir lima minggu lalu telah menimbulkan kerusakan signifikan, termasuk pengeboman jembatan baru antara Tehran dan Karaj yang menewaskan delapan orang serta melukai 95 lainnya. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menolak bahwa serangan ke bangunan sipil akan memaksa rakyat Iran menyerah.
Iran membalas dengan serangan drone ke fasilitas bantuan Bulan Sabit Merah di provinsi Bushehr dan menimbulkan kebakaran di kilang minyak Mina al‑Ahmadi milik Kuwait Petroleum Corporation. Saudi Arabia melaporkan penangkapan tujuh drone oleh pertahanan udaranya. Selain itu, sebuah jet tempur F‑35 Amerika diklaim ditembak jatuh oleh pertahanan Iran, meski pihak militer AS hanya mengonfirmasi pendaratan darurat pesawat tersebut.
Di panggung internasional, sekitar 40 negara mengadakan pertemuan virtual yang dipimpin Inggris untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur utama yang menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Dewan Keamanan PBB dijadwalkan memberi suara pada resolusi Bahrain yang mengusulkan perlindungan pelayaran komersial di wilayah tersebut, namun China mengancam hak veto atas penggunaan kekuatan militer.
Para pakar hukum internasional AS, lebih dari seratus orang, menandatangani surat yang menyuarakan keprihatinan atas potensi pelanggaran hak asasi manusia dan hukum humaniter dalam tindakan militer AS, mengingat pernyataan Trump pada Maret lalu bahwa serangan ke Iran dapat dilakukan “hanya untuk bersenang‑senang”.
Pasar keuangan merespon dengan volatilitas tinggi; indeks saham Asia mengalami penurunan, sementara harga minyak mentah AS naik hampir 11% setelah pernyataan Trump. Negara‑negara yang bergantung pada pengiriman energi melalui Hormuz, termasuk Jepang, mengumumkan langkah mitigasi untuk mengurangi dampak kekurangan bahan bakar.
Iran mengancam akan menutup Selat Hormuz secara permanen sebagai balasan atas serangan gabungan AS‑Israel, dan mengusulkan skema perizinan kapal bersama Oman. Uni Eropa menolak skema “bayar‑untuk‑lewat” tersebut, menegaskan bahwa hukum internasional tidak mengakui pembayaran semacam itu.
Konflik ini menambah beban kemanusiaan dengan ribuan korban tewas dan puluhan ribu luka di seluruh Timur Tengah. Lembaga Palang Merah Internasional memperingatkan bahwa kebutuhan medis meningkat tajam, sementara kekurangan bahan bakar memperburuk krisis ekonomi di Asia dan berpotensi menyebar ke Eropa serta Afrika.










