PSPK – 10 April 2026 | Arab Saudi mengumumkan pada 9 April bahwa serangan yang dilancarkan Iran dalam beberapa pekan terakhir menargetkan infrastruktur energi kerajaan, menewaskan satu warga Saudi dan melukai tujuh orang lainnya. Serangan tersebut mempengaruhi fasilitas produksi, transportasi, penyulingan, serta pabrik petrokimia dan pembangkit listrik yang berada di wilayah Riyadh, Provinsi Timur, dan kota industri Yanbu.
Selain gangguan pada jaringan pipa, fasilitas produksi lapangan minyak Manifa dan Khurais juga terdampak, menurunkan output nasional sekitar 600.000 barel per hari. Dengan produksi harian lebih dari 10 juta barel, penurunan ini signifikan bagi pasokan global.
| Komponen yang Terpengaruh | Penurunan Kapasitas |
|---|---|
| Stasiun pompa jalur timur‑barat | 700.000 barel/hari |
| Fasilitas produksi Manifa & Khurais | 600.000 barel/hari |
Serangan juga menyasar kilang minyak di Jubail, Ras Tanura, Yanbu, dan Riyadh, yang berdampak langsung pada ekspor produk olahan ke pasar internasional. Dampak kumulatif ini menambah tekanan pada pasar energi global, mengingat Arab Saudi merupakan eksportir minyak mentah terbesar di dunia.
Konflik ini berawal dari serangan Israel‑AS terhadap Iran pada 28 Februari, yang kemudian memicu balasan Iran berupa rudal dan drone ke Israel serta negara‑negara Teluk yang dianggapnya sebagai basis operasi Amerika Serikat. Sejak saat itu, tiga warga Saudi telah meninggal dalam serangkaian serangan di kerajaan tersebut.
Dengan berkurangnya pasokan minyak mentah dan produk olahan, para analis memperkirakan adanya volatilitas harga minyak di pasar dunia serta potensi penyesuaian kebijakan produksi oleh negara‑negara produsen lainnya.












