PSPK – 30 Mei 2026 | HR CPO Juni 2026 Turun, HPE Biji Kakao dan Getah Pinus Naik menjadi sorotan utama pasar komoditas Indonesia pada awal bulan ini. Kementerian Perdagangan menetapkan Harga Referensi (HR) minyak kelapa sawit mentah (CPO) sebesar USD1.029,51 per metrik ton (MT) untuk periode 1-30 Juni 2026, menandakan penurunan sebesar USD20,07 atau 1,91% dibandingkan Mei 2026. Sementara itu, Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao dan getah pinus justru mencatat kenaikan signifikan.
Penurunan HR CPO dan faktor penyebab
Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Tommy Andana, menjelaskan bahwa penurunan HR CPO dipicu melemahnya permintaan dari negara‑negara importir utama, terutama India. Data perdagangan menunjukkan penurunan pembelian CPO oleh India yang memengaruhi keseimbangan pasar global. Selain faktor permintaan, perhitungan HR CPO mengikuti ketentuan Peraturan Menteri Perdagangan No. 35/2025, yang mengharuskan penggunaan dua sumber harga terdekat median bila selisih rata‑rata tiga sumber melebihi USD40. Dengan demikian, harga Bursa CPO Malaysia (USD1.138,22/MT) dan Bursa CPO Indonesia (USD920,80/MT) dijadikan acuan, menghasilkan HR USD1.029,51/MT.
Selain penurunan HR, pemerintah tetap memberlakukan Bea Keluar (BK) CPO sebesar USD148/MT dan Pungutan Ekspor (PE) sebesar 12,5% dari HR, setara USD128,69/MT. Kebijakan ini bertujuan menjaga penerimaan negara sekaligus menstabilkan arus ekspor.
Kenaikan HR dan HPE Biji Kakao
Berbeda dengan CPO, HR biji kakao naik menjadi USD3.832,17/MT, meningkat USD563,48 atau 17,24% dibandingkan Mei 2026. Dampaknya, HPE biji kakao melonjak menjadi USD3.511/MT, menambah USD549 dibandingkan periode sebelumnya. Tommy Andana menyoroti dua penyebab utama: penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan biaya logistik, asuransi, dan bahan bakar, serta penurunan pasokan kakao dari Nigeria. Kedua faktor tersebut memperketat pasokan global, mendorong harga naik.
Untuk Juni 2026, BK biji kakao ditetapkan sebesar 7,5% HR, dengan tarif Pungutan Ekspor yang sama, menegaskan kebijakan fiskal yang konsisten.
Stabilitas dan kenaikan pada produk kayu serta getah pinus
Kementerian Perdagangan melaporkan bahwa HPE produk kulit (produk kayu kulit) tetap stabil dibandingkan periode sebelumnya. Beberapa produk kayu olahan, seperti keping kayu (chipwood) dan kayu olahan berukuran 1.000‑4.000 mm dari jenis sungkai, serta kayu merbau dengan luas penampang 4.000‑10.000 mm, juga tidak berubah.
Namun, HPE getah pinus mengalami kenaikan menjadi USD980/MT, naik USD64 atau 6,99% dari Mei 2026. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan HPE kayu veneer, baik dari hutan alam maupun hutan tanaman, serta kayu olahan berukuran 1.000‑4.000 mm dari jenis meranti, merbau, rimba campuran, eboni, dan beberapa tanaman perkebunan seperti akasia, sengon, balsa, serta eukaliptus.
Di sisi lain, pemerintah mencatat penurunan HPE pada kayu lapis untuk kotak kemasan, kayu keping atau pecahan, serta kayu olahan jenis jati dan beberapa kayu hutan tanaman seperti pinus, gmelina, dan karet.
Implikasi kebijakan terhadap pelaku industri
Penetapan HR CPO Juni 2026 Turun, HPE Biji Kakao dan Getah Pinus Naik memberikan sinyal penting bagi eksportir, pedagang, dan produsen domestik. Penurunan HR CPO dapat mengurangi margin keuntungan produsen minyak sawit, namun diimbangi dengan beban bea keluar yang tetap tinggi. Sebaliknya, kenaikan HPE biji kakao dan getah pinus membuka peluang margin lebih besar bagi eksportir, meski harus menyiapkan strategi logistik yang lebih mahal akibat biaya transportasi global.
Para analis memperkirakan bahwa jika permintaan India terhadap CPO terus melemah, HR CPO dapat mengalami penurunan lebih lanjut pada kuartal berikutnya. Sementara itu, kondisi geopolitik di Selat Hormuz dan situasi produksi kakao Nigeria akan menjadi faktor penentu bagi stabilitas harga biji kakao ke depan.
Kesimpulan
Secara keseluruhan, dinamika harga komoditas pada Juni 2026 menunjukkan pola yang kontras: HR CPO Juni 2026 Turun, HPE Biji Kakao dan Getah Pinus Naik. Kebijakan tarif dan bea yang konsisten tetap menjadi landasan fiskal pemerintah, sementara faktor eksternal seperti permintaan global, geopolitik, dan pasokan regional terus memengaruhi fluktuasi pasar. Pelaku usaha diharapkan menyesuaikan strategi produksi, pemasaran, dan logistik untuk memanfaatkan peluang dan mengurangi risiko yang muncul.












