PSPK – 28 Maret 2026 | Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah perang antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran menutup sebagian besar lalu lintas laut melalui Selat Hormuz. Penutupan ini memengaruhi sekitar 20 juta barel minyak per hari yang biasanya melintasi selat tersebut. Untuk menutup kesenjangan, tiga negara produsen utama—Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Irak—mempercepat pengiriman minyak lewat jaringan pipa darat yang ada.
Jalur Pipa Timur‑Barat Arab Saudi (Petroline)
Pipa ini menghubungkan fasilitas pengolahan di Abqaiq dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah sepanjang 1.200 km. Kapasitas maksimumnya sekitar 7 juta barel per hari, dengan sekitar 5 juta barel yang dapat diekspor pada saat ini. Selama dua minggu terakhir aliran meningkat drastis dari 770.000 barel per hari menjadi rata‑rata 2,9 juta barel per hari. Namun, pipa ini tetap berisiko karena dapat menjadi target kelompok Houthi yang aktif di Laut Merah.
Jalur Pipa Abu Dhabi‑Fujairah (ADCOP)
Berjalan sepanjang 380 km dari ladang Habshan di Abu Dhabi ke pelabuhan Fujairah di Teluk Oman, pipa ini memiliki kapasitas 1,5 juta barel per hari. Pada Maret 2026 rata‑rata pengiriman meningkat menjadi 1,62 juta barel per hari, naik dari 1,17 juta barel pada Februari.
Jalur Pipa Kirkuk‑Ceyhan Irak‑Turki
Jalur ini mengalir dari wilayah produksi di Irak ke pelabuhan Ceyhan di Turki dengan kapasitas 1,6 juta barel per hari, namun saat ini hanya mengangkut sekitar 200.000 barel per hari. Irak tetap menjadi produsen minyak terbesar kedua di OPEC dengan produksi lebih dari 4 juta barel per hari.
Apakah Pipa‑pipa Ini Bisa Menggantikan Selat Hormuz?
Ketiga pipa bersama‑sama mampu menyalurkan sekitar 9 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas sekitar 20 juta barel per hari yang hilang akibat penutupan Hormuz. Selain itu, semua pipa darat berada dalam jangkauan ancaman serangan misil atau drone, sehingga tidak sepenuhnya menghilangkan risiko pasokan.
Alternatif lain seperti transportasi truk memang ada, namun biaya dan kecepatan yang rendah membuatnya tidak layak untuk memenuhi kebutuhan pasar global. Dengan demikian, meski peningkatan aliran lewat pipa membantu meredam krisis, ketergantungan pada Selat Hormuz tetap tinggi.












