PSPK – 19 April 2026 | Setelah berhari‑hari tertutup, Selat Hormuz kembali terbuka untuk lalu lintas kapal komersial. Pembukaan ini memungkinkan lebih dari tiga puluh kapal melintasi jalur strategis antara Teluk Persia dan Teluk Oman, menandai pergeseran penting dalam dinamika perdagangan maritim regional.
Data terbaru menunjukkan sebanyak 23 kapal, kebanyakan berupa kapal kargo kering, sedang mendekati Selat Hormuz dari sisi Teluk Persia. Dari arah Teluk Oman, delapan kapal lagi sedang berlayar, di antaranya enam merupakan tanker minyak. Secara keseluruhan, lebih dari tiga puluh kapal komersial bergerak bebas di selat yang selama ini menjadi titik rapat geopolitik.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa jalur pelayaran komersial melalui Selat Hormuz sepenuhnya terbuka selama gencatan senjata berlangsung. Pernyataan tersebut menambah keyakinan pelaku industri logistik bahwa perdagangan dapat berlanjut tanpa gangguan signifikan.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran akan tetap diberlakukan hingga tercapai kesepakatan akhir dengan Tehran. Meskipun demikian, ia menambahkan bahwa sebagian besar poin dalam negosiasi sudah berada pada tahap akhir.
Sementara itu, Komando Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan adanya “tatanan baru” untuk navigasi di Selat Hormuz. Menurut aturan tersebut, kapal sipil hanya diperbolehkan berlayar di rute yang telah ditentukan, guna memastikan keamanan dan kelancaran arus lalu lintas laut.
Pembukaan Selat Hormuz diharapkan meningkatkan aliran barang, khususnya minyak dan komoditas bulk, ke pasar global. Namun, ketegangan politik yang masih menyelimuti wilayah ini tetap menjadi faktor yang harus dipantau oleh para pengamat dan pelaku industri.










