PSPK – 23 April 2026 | Mahasiswa Universitas Nusa Cendana (Undana) di Kupang memperingati Hari Kartini dengan menggelar diskusi kritis yang menyoroti diskriminasi perempuan di berbagai sektor, mulai dari upah, beban ganda, hingga representasi politik.
Inisiatif Lapak Baca PBSI
Acara ini diprakarsai oleh komunitas Lapak Baca Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) sebagai alternatif perayaan yang biasanya bersifat seremonial. Tujuannya adalah membuka ruang dialog terbuka bagi mahasiswa.
Feminisme dan Patriarki
Febri Bintara, alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Undana, menjadi pembicara utama. Ia menjelaskan bahwa feminisme berjuang untuk kesetaraan hak antara laki‑laki dan perempuan sekaligus menolak budaya patriarki yang menempatkan perempuan pada posisi subordinat.
Contoh Ketimpangan Upah
Febri mencontohkan pekerjaan mencabut rumput di Nusa Tenggara Timur, di mana perempuan hanya menerima sekitar Rp35.000 per hari, sementara laki‑laki memperoleh Rp50.000 meski beban kerja sama. Selain upah lebih rendah, laki‑laki juga sering diberikan fasilitas tambahan seperti rokok dan waktu istirahat.
Beban Ganda
Perempuan di wilayah tersebut masih harus mengelola pekerjaan di ruang publik sekaligus mengurus rumah tangga, anak, dan suami. Febri menegaskan bahwa tugas domestik bukanlah kodrat, melainkan konstruksi budaya patriarki yang masih kuat.
Akses Pendidikan dan Hak atas Tanah
Di beberapa daerah, perempuan masih dipandang tidak perlu melanjutkan pendidikan tinggi karena diyakini akan bergantung pada suami. Selain itu, perempuan sering tidak memiliki hak atas tanah atau warisan, sehingga pernikahan menjadi satu‑satunya pilihan untuk bertahan hidup.
Representasi Politik
Febri mengkritik keberadaan politisi perempuan yang sering berasal dari kelas dominan dan tidak mewakili kepentingan perempuan akar rumput. Menurutnya, politisi sejati adalah mereka yang pernah bekerja sebagai buruh, petani, atau pekerja rumah tangga.
Seruan untuk Perubahan
Hari Kartini harus menjadi momentum perjuangan berkelanjutan, bukan sekadar seremoni. Febri menekankan bahwa perjuangan perempuan adalah tanggung jawab seluruh rakyat, termasuk laki‑laki, serta harus selaras dengan gerakan petani, buruh, mahasiswa, dan pemuda desa.
Pernyataan Penanggung Jawab
Yohanes Adventura L.B. Lamawato, penanggung jawab Lapak Baca PBSI sekaligus dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Undana, menyatakan bahwa diskusi ini lahir dari kegelisahan mahasiswa terhadap peringatan Kartini yang terlalu simbolik. Ia berharap ruang kritis seperti ini dapat terus berlanjut.
Hari Kartini diperingati setiap 21 April untuk mengenang Raden Ajeng Kartini, pelopor emansipasi perempuan Indonesia yang melalui surat‑suratnya mengkritik ketidakadilan pada akhir abad ke-19. Gagasan‑gagasannya tentang pendidikan, kesetaraan, dan kebebasan berpikir tetap menjadi dasar perjuangan hak perempuan di tanah air.












