PSPK – 17 April 2026 | Perubahan kepemimpinan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) yang akan datang menjadi titik penting untuk meninjau kembali arah pengelolaan kawasan strategis ini. Danau Toba, yang sekaligus merupakan UNESCO Global Geopark, dituntut mempertahankan prinsip geowisata berbasis konservasi, edukasi, dan keberlanjutan sejak penetapan pada tahun 2013.
Keunikan Danau Toba terletak pada nilai geologinya, ekosistemnya, dan warisan budaya yang berskala global. Sebagai sebuah living system, geopark mengintegrasikan ilmu pengetahuan, pelestarian lingkungan, serta pengembangan ekonomi yang melibatkan masyarakat setempat. Dalam kerangka tersebut, pariwisata tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk edukasi, pelestarian, dan pemberdayaan.
Namun, dalam beberapa tahun terakhir, fokus pembangunan cenderung bergeser dari geowisata ke pariwisata massal. Penekanan pada jumlah wisatawan, pembangunan infrastruktur berskala besar, dan investasi jangka pendek menimbulkan tekanan berat pada daya dukung lingkungan Danau Toba. Kerusakan di hulu, seperti deforestasi dan degradasi daerah tangkapan air, serta pencemaran di hilir, termasuk limbah domestik dan aktivitas perikanan intensif, mengancam kualitas air dan ekosistem danau.
Ketidaksesuaian antara orientasi pembangunan dan kapasitas ekologis menjadi risiko utama. Selain tantangan teknis, masalah tata kelola kelembagaan juga muncul. UNESCO Global Geopark Toba Caldera (TCUGGp) seharusnya menjadi acuan ilmiah utama, sementara BPODT berperan sebagai pelaksana kebijakan geopark. Praktik saat ini menunjukkan dominasi logika proyek dan kepentingan fiskal yang menggeser fungsi geopark sebagai kompas ilmiah.
Untuk mengembalikan keseimbangan, diperlukan koreksi kelembagaan yang menegaskan kembali peran masing‑masing. TCUGGp harus diperkukuh sebagai penentu batas daya dukung dan integrasi geologi‑ekologi‑budaya, sedangkan BPODT harus melaksanakan kebijakan tersebut tanpa mengubah arah strategis.
Dalam konteks pergantian pimpinan BPODT, kriteria berikut menjadi krusial:
- Penguasaan menyeluruh tentang konsep UNESCO Global Geopark dan implikasinya bagi tata ruang dan pembangunan.
- Kemampuan mengkoordinasikan lintas sektor (lingkungan, kehutanan, pariwisata, infrastruktur, dan pemerintah daerah) secara terpadu.
- Komitmen kuat terhadap konservasi sebagai fondasi utama.
- Orientasi pada pemberdayaan masyarakat lokal sebagai aktor utama geowisata.
- Keberanian untuk mengoreksi kebijakan yang menyimpang dari prinsip keberlanjutan.
Jika pemimpin baru tidak dapat memenuhi prasyarat tersebut, status UNESCO Global Geopark dapat terancam pada evaluasi berikutnya, sekaligus menimbulkan kerusakan ekologi yang sulit dipulihkan. Sebaliknya, pemanfaatan momentum ini secara tepat dapat menjadikan Danau Toba contoh global dalam pengelolaan geopark yang berbasis ilmu pengetahuan, berkelanjutan, dan memberi manfaat langsung bagi komunitas setempat.
Intinya, bukan arah baru yang diperlukan, melainkan konsistensi dan keberanian untuk kembali pada kesepakatan 2013: pengembangan berbasis geopark dan geowisata yang lestari. Pergantian pimpinan BPODT harus dilihat sebagai peluang strategis, bukan sekadar prosedur administratif, untuk menegakkan kembali prinsip‑prinsip pengelolaan yang holistik.










