PSPK – 17 April 2026 | Harga minyak mentah cargo Amerika Serikat (AS) menurun meski pasar Eropa dan Asia terus mencatat rekor tertinggi setelah konflik yang melibatkan Iran. Penutupan Selat Hormuz dan kerusakan fasilitas minyak di wilayah tersebut memicu lonjakan harga fisik di Eropa dan Timur Tengah, sementara AS berhasil menstabilkan pasar domestik dengan mengandalkan cadangan minyak strategis serta impor minyak mentah Venezuela.
Beberapa faktor utama yang menahan kenaikan harga cargo AS antara lain:
- Penjualan sekitar 172 juta barel dari Strategic Petroleum Reserve (SPR) yang menambah pasokan fisik.
- Peningkatan impor minyak mentah Venezuela mencapai 295.000 barel per hari pada kuartal pertama 2024, naik 14 % YoY.
- Ketersediaan minyak medium‑asam dari Teluk Meksiko yang menjadi pilihan utama kilang AS.
Harga cargo Mars, jenis minyak medium‑asam asal Teluk Meksiko, diperdagangkan sekitar US$97 per barel pada Rabu, turun signifikan dari puncak US$128,70 per barel pada 2 April. Sebaliknya, harga minyak fisik di Eropa mendekati US$150 per barel, dan patokan Dubai di Timur Tengah hampir mencapai US$170 per barel.
Analisis pasar menunjukkan bahwa kilang AS berada di sisi penawaran dan bukan sekadar penerima harga. Menurut David Jorbenaze (ICIS), “Pembeli Eropa dan Asia membutuhkan pasokan fisik secara mendesak, sementara kilang AS dapat menentukan harga karena mereka menguasai pasokan.” Gus Vasquez (Argus Media) menambahkan bahwa pelepasan SPR biasanya menurunkan harga secara historis.
Namun tidak semua segmen cargo mengalami penurunan. Minyak WTI Midland yang ringan dan rendah sulfur, yang banyak diekspor ke Eropa, diperdagangkan dengan premi US$22,80 di atas Brent, atau sekitar US$142 per barel, mencatat level tertinggi sepanjang masa. Janiv Shah (Rystad Energy) mencatat bahwa WTI berorientasi ekspor memiliki potensi kenaikan karena persaingan ketat untuk menggantikan impor Timur Tengah.
Secara keseluruhan, kombinasi pelepasan SPR, pasokan Venezuela, dan risiko pengiriman ke Eropa serta Asia telah menjaga pasar fisik minyak mentah AS tetap stabil, meski tekanan harga di luar negeri terus meningkat.












