PSPK – 29 Maret 2026 | New York – Konflik yang melibatkan Iran telah memicu lonjakan signifikan pada harga minyak dunia. Menurut survei Reuters terhadap 13 analis energi, penutupan efektif Selat Hormuz dan serangan terhadap fasilitas produksi di Timur Tengah dapat menurunkan pasokan global secara dramatis, sehingga harga diproyeksikan tetap tinggi dalam berbagai skenario.
Sejak dimulainya konflik, kontrak berjangka Brent telah naik lebih dari 50 % dan sempat menembus US$119 per barel. Analisis menilai bahwa jika fasilitas ekspor Iran, khususnya Pulau Kharg, rusak, harga dapat melambung hingga US$200 per barel.
Skenario Harga Minyak
| Skenario | Rentang Harga Brent (USD/barel) | Harga Rata‑rata |
|---|---|---|
| Gangguan berkelanjutan di Selat Hormuz | US$100 – US$190 | US$134,62 |
| Kerusakan fasilitas ekspor di Pulau Kharg | US$120 – US$200 | US$153,85 |
| Konflik berakhir namun ancaman terhadap Hormuz tetap ada | US$50 – US$150 | – |
Penurunan pasokan diperkirakan mencapai 11 juta barel per hari pada 23 Maret, menurut Direktur Eksekutif Badan Energi Internasional, Fatih Birol. Dampaknya akan terasa paling keras di negara‑negara pengimpor minyak di Asia dan Eropa. Analis DBS Bank, Suvro Sarkar, menekankan bahwa gangguan di Selat Hormuz akan menimbulkan efek berbeda: negara‑negara Asia Utara berisiko mengalami pemadaman listrik, sementara Asia Selatan dan Tenggara dapat menghadapi kekurangan bahan bakar bagi konsumen dan industri.
Kenaikan biaya energi tidak hanya mempengaruhi sektor transportasi, melainkan juga industri padat energi, pertanian, serta produksi kimia. Thomas Wybierek dari NORD/LB mengingatkan bahwa kenaikan biaya transportasi akan menambah beban pada barang konsumsi maupun barang modal, sementara rantai pasokan kimia dan pertanian akan mengalami tekanan signifikan.
Dengan harga minyak yang berpotensi menembus US$150 per barel, risiko inflasi global akan meningkat, menambah beban pada kebijakan moneter dan memperlambat pertumbuhan ekonomi di banyak negara.












