PSPK – 23 April 2026 | Pada pertengahan April 2026, sebuah video yang memperlihatkan dua prajurit Israel menghancurkan patung Yesus di desa Debel, Lebanon selatan, menjadi viral di media sosial. Aksi vandalisme tersebut memicu kemarahan global, terutama di kalangan umat Kristen, dan menimbulkan sorotan tajam terhadap kebijakan militer Israel di zona perbatasan.
Latar Belakang Insiden
Patung Yesus yang berada di sebuah kapel kecil di Debel merupakan simbol penting bagi komunitas Kristen setempat. Pada tanggal 19 April, salah satu prajurit IDF menggunakan palu besar untuk memukul kepala patung, sementara rekannya merekam aksi tersebut. Insiden ini terjadi di tengah operasi militer Israel melawan kelompok Hizbullah, namun tidak ada perintah resmi yang mengizinkan tindakan tersebut.
Setelah video menyebar, militer Israel (IDF) segera mengonfirmasi keaslian rekaman dan menyatakan bahwa perusakan itu merupakan pelanggaran serius yang tidak sejalan dengan nilai‑nilai tentara. Penyelidikan internal menegaskan bahwa kedua prajurit bertindak di luar perintah.
Tindakan Militer Israel
IDF mencopot kedua prajurit dari tugas tempur dan menjatuhkan hukuman penjara militer selama 30 hari. Selain itu, enam tentara lain yang berada di lokasi namun tidak melaporkan kejadian tersebut akan dipanggil untuk klarifikasi lebih lanjut. Militer juga bekerja sama dengan komunitas lokal untuk mengganti patung yang rusak dengan salib baru, sebagai bentuk penyesalan resmi.
Juru bicara IDF menegaskan, “Perilaku prajurit tersebut tidak sejalan dengan nilai‑nilai yang diharapkan dari tentara kami. Tidak ada maksud untuk merusak bangunan atau simbol agama.” Pernyataan ini menegaskan komitmen militer untuk menegakkan disiplin dan mencegah insiden serupa.
Reaksi Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara tegas mengutuk perusakan patung Yesus. Dalam unggahan di platform X pada 20 April, ia menulis, “Saya mengutuk tindakan itu dengan sekeras‑kerasnya. Otoritas militer akan mengambil tindakan disiplin yang keras terhadap pelaku.” Netanyahu juga menyampaikan permintaan maaf kepada umat Kristen di Lebanon dan seluruh dunia, serta berjanji akan memberikan hukuman berat bagi semua anggota IDF yang terlibat.
Netanyahu menegaskan bahwa insiden ini bertentangan dengan nilai moral yang dijunjung tinggi oleh Israel, dan menambah tekanan internasional terhadap pemerintah Israel untuk menegakkan akuntabilitas dalam operasi militer.
Respons Komunitas Internasional
Berbagai pemimpin agama Kristen, termasuk koordinator forum Kristen di Tanah Suci, Wadie Abu Nassar, mengecam keras perusakan tersebut dan menuntut penyelidikan menyeluruh. Organisasi hak asasi manusia mencatat bahwa hukuman 30 hari penjara merupakan langkah disiplin yang relatif ringan, namun menilai tindakan ini sebagai sinyal penting bahwa Israel tidak menoleransi pelanggaran terhadap simbol keagamaan.
Media internasional, termasuk BBC, The Guardian, dan New York Times, melaporkan bahwa insiden ini menambah ketegangan diplomatik antara Israel dan komunitas internasional, terutama setelah aksi serupa di masa lalu yang kurang mendapatkan sanksi tegas.
Langkah Selanjutnya
IDF berkomitmen untuk meningkatkan pelatihan etika bagi prajuritnya, memastikan bahwa operasi militer tidak menargetkan simbol keagamaan atau sipil. Pemerintah Israel juga berjanji akan memantau perilaku pasukan di zona perbatasan secara lebih ketat, dengan tujuan mencegah terulangnya perusakan simbol keagamaan.
Komunitas Kristen di Debel berharap bahwa patung baru yang dipasang dapat menjadi simbol rekonsiliasi dan pengingat akan pentingnya menghormati kebebasan beragama dalam konflik bersenjata. Sementara itu, perusakan patung Yesus tetap menjadi contoh nyata bagaimana tindakan individu di medan perang dapat memicu respons politik, diplomatik, dan sosial yang luas.










