PSPK – 04 April 2026 | Pada masa Pekan Suci, Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, mengeluarkan Surat Gembala Prapaskah‑Paskah yang menyoroti krisis ekologi dan sosial di wilayahnya. Surat yang dirilis pada 22 Maret dengan tema “Bangkit, Berjalan Bersama dan Bersaksi” menekankan bahwa kebangkitan Kristus bukan sekadar simbol spiritual, melainkan panggilan untuk bertindak nyata di tanah, laut, dan hutan Labuan Bajo.
Masalah Lingkungan dan Sosial di Labuan Bajo
- Terumbu karang mengalami degradasi akibat perubahan iklim dan polusi plastik.
- Hutan Bowosie terus menyusut untuk memberi ruang pembangunan pariwisata.
- Kenaikan harga lahan mengusir penduduk asli dan menurunkan akses air bersih bagi masyarakat lokal.
- Data BPS 2024 menunjukkan 16,74% penduduk Manggarai Barat hidup di bawah garis kemiskinan, dua kali lipat rata‑rata nasional.
Makna “Galilea” dalam Surat Gembala
Uskup Maksimus menafsirkan Galilea bukan hanya sebagai tempat dalam Injil, melainkan sebagai metafora “Galilea ekologis” – wilayah tempat umat harus menapaki iman melalui tindakan nyata: melindungi terumbu karang, menjaga hutan kritis, dan memastikan hak masyarakat adat terdengar dalam kebijakan pariwisata.
Pesan Moral dan Etika Ekonomi
Surat menegaskan bahwa pembangunan pariwisata boleh berlanjut asalkan tidak merusak ciptaan. Ia menekankan prinsip kepemilikan yang bersifat kepercayaan, bukan eksploitatif, serta menuntut tanggung jawab generasi kini sebagai wali bagi masa depan.
Dukungan Terhadap Suara Kritis
Uskup secara terbuka mendukung aktivis lingkungan, LSM, dan media yang mengkritisi model pembangunan top‑down. Ia mengingatkan bahwa gereja memiliki peran moral untuk melindungi mereka yang berani menentang kepentingan sempit.
Langkah Konkret yang Diperlukan
- Kolaborasi lintas sektoral antara Keuskupan, pemerintah daerah, LSM, dan komunitas lokal untuk audit proyek pariwisata.
- Pembentukan program edukasi ekologi di tingkat paroki dan sekolah.
- Advokasi kebijakan perlindungan kawasan ekologis kritis seperti terumbu karang dan hutan Bowosie.
- Pengembangan model pariwisata berkelanjutan yang mengutamakan kesejahteraan petani, nelayan, dan warga adat.
Dengan menempatkan iman pada tindakan nyata, Surat Gembala mengajak seluruh umat Labuan Bajo untuk menjadi saksi kebangkitan Kristus lewat pelestarian lingkungan dan keadilan sosial.












