Project Seru Penuh Kejutan

Warisan Aktivisme dan Kontroversi: Mengenang Pater Marsel Agot SVD

April 20, 2026 • 0 Views
Warisan Aktivisme dan Kontroversi: Mengenang Pater Marsel Agot SVD
Warisan Aktivisme dan Kontroversi: Mengenang Pater Marsel Agot SVD

PSPK – 20 April 2026 | Pada Jumat, 18 April 2026, Provinsi SVD Ruteng mengumumkan meninggalnya Pater Marselinus Agot, SVD, yang wafat karena serangan jantung di Rumah Sakit St. Rafael Cancar pada 17 April pukul 23.30 WITA. Ia berusia 76 tahun. Pater Paulus Jogo, SVD, mengajak seluruh umat, imam, biarawan, serta biarawati untuk mendoakan keselamatan jiwa almarhum.

Misa pemakaman dilaksanakan pada 19 April di Gereja Devosional St. Yosef Ruteng dan dilanjutkan dengan pemakaman di pekuburan SVD Ruteng, Novisiat Sang Sabda Kuwu, Kabupaten Manggarai. Ucapan belasungkawa mengalir deras melalui media sosial, menyoroti sosoknya yang rendah hati, peduli kemanusiaan, lingkungan, dan keadilan.

Peran Aktivis Lingkungan dan Kemanusiaan

Pater Marsel lahir pada 2 Juni 1950 di Wela, Ruteng. Setelah menempuh pendidikan di Seminari Pius XII Kisol, Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero, dan studi teologi di Universitas Gregoriana, Roma, ia ditahbiskan menjadi imam SVD pada 22 Juni 1983.

Selama 1983–2005, ia mengabdi sebagai dosen di STKIP St. Paulus Ruteng (sekarang Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng), menjabat sebagai ketua fakultas dan pelaksana yayasan. Pada awal 2000-an, ia beralih ke Labuan Bajo, menjadi kepala SMAK Santo Ignatius Loyola, sekaligus terlibat dalam advokasi sosial, lingkungan, serta hak-hak masyarakat.

  • 2009: Bergabung dengan Gerakan Masyarakat Antitambang (Geram) menolak rencana tambang emas di Desa Tebedo dan Batu Gosok.
  • 2013: Menerima penghargaan dari Menteri Kehutanan yang disaksikan Presiden SBY atas upaya penghijauan hutan gundul di Labuan Bajo.
  • 2022: Menerima Ma’arif Award atas kontribusi dalam pembangunan rumah tunggu bersalin melalui BPKD Manggarai Barat.

Kegiatan Kesehatan Masyarakat

Melalui Badan Pertimbangan Kesehatan Daerah (BPKD) Manggarai Barat, Pater Marsel membantu pendirian 17 rumah tunggu bersalin di puskesmas setempat, memberikan akses lebih dekat bagi ibu hamil ke layanan kesehatan.

Usaha dan Sengketa Perburuhan

Selain peran keagamaan, ia juga terlibat sebagai pengusaha. Ia memegang saham dan menjabat Direktur Utama pada dua perusahaan di Labuan Bajo:

Perusahaan Saham Peran
PT Predicator Unitatis Mundi 1.025 lembar (Rp1,25 miliar) Direktur Utama, mengelola SPBU Prundi Sernaru
PT Prundi Anugerah Lestari 500 lembar (Rp500 juta) Direktur Utama, mengelola Hotel Green Prundi

Perusahaan SPBU Prundi Sernaru pernah bersengketa ketenagakerjaan pada Juni 2025; penyelesaian dilakukan pada Juli 2025 dengan pembayaran pesangon total Rp65 juta.

Perkara Hukum yang Belum Tuntas

Beberapa tahun terakhir, citra Pater Marsel mengalami tekanan akibat sejumlah perkara hukum terkait sengketa tanah di Labuan Bajo. Sistem Informasi Penelusuran Perkara Pengadilan Negeri Labuan Bajo mencatat tiga kasus: satu telah memiliki kekuatan hukum tetap, satu dalam tahap kasasi, dan satu lagi mulai disidangkan pada 25 Februari 2026.

Polemik terbaru melibatkan sengketa lahan seluas 11 hektare di Batu Gosok dengan Aloisius Oba. Pada Februari 2026, Pater Marsel melaporkan Aloisius serta beberapa wartawan ke Polres Manggarai Barat atas tuduhan pencemaran nama baik dan framing pemberitaan. Dewan Pers menilai laporan media tidak akurat dan tidak berimbang.

Walaupun terdapat kontroversi hukum, banyak yang tetap menghargai kontribusi Pater Marsel sebagai gembala, aktivis, dan pengusaha yang berusaha memperbaiki kondisi sosial‑ekonomi serta lingkungan di wilayahnya.

Warisan beliau tetap menjadi bahan refleksi bagi generasi mendatang, mengingatkan bahwa perjuangan untuk keadilan dan kelestarian alam dapat berjalan berdampingan dengan tantangan pribadi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *