PSPK – 24 April 2026 | Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran mencapai puncaknya sejak akhir Februari 2026, ketika Angkatan Laut Revolusi Islam Iran menembaki beberapa kapal dagang di Selat Hormuz. Di tengah operasi militer yang semakin intens, Menteri Angkatan Laut Amerika Serikat, John Phelan, secara mendadak diberhentikan dari jabatannya, memicu kegelisahan internal di Pentagon.
Latar Belakang Konflik Iran‑AS
Serangan IRGC terhadap kapal MSC Francesca (berbendera Panama) dan Epaminondas (berbendera Liberia) menandai eskalasi baru. Epaminondas, yang membawa 21 awak Ukraina dan Filipina, mengalami kerusakan serius setelah tembakan dan granat roket menimpa anjungan, meski tidak ada korban jiwa. MSC Francesca juga ditembak namun tidak mengalami kerusakan signifikan. Sementara itu, Angkatan Laut AS berhasil mencegat tiga tanker berbendera Iran—Deep Sea, Sevin, dan Dorena—yang beroperasi di perairan India, Malaysia, dan Sri Lanka, memaksa mereka beralih jalur demi mengamankan pasokan minyak mentah dunia.
Pemecatan John Phelan
Pembebasan Phelan diumumkan pada 22 April 2026 oleh Pentagon tanpa penjelasan resmi. Presiden Donald Trump menyebut Phelan sebagai “pekerja keras” yang mengalami konflik dengan pejabat senior terkait pembangunan kapal perang. Menurut laporan, Phelan dianggap terlalu lambat dalam melaksanakan reformasi program pembangunan kapal, terutama proyek ambisius yang disebut “Golden Fleet”—sebuah armada kapal perang kelas besar yang didorong oleh visi Trump.
Penyebab Internal Pentagon
Berbagai sumber mengungkapkan bahwa ketegangan utama berpusat pada perbedaan strategi antara Phelan dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth serta Wakil Menteri Pertahanan Stephen Feinberg. Hegseth mendukung peralihan ke kapal tak berawak yang lebih kecil dan ekonomis, sementara Phelan berupaya mempertahankan proyek kapal kelas “Trump” yang diperkirakan menelan biaya miliaran dolar. Konflik ini diperparah oleh gaya manajemen Phelan yang cenderung langsung berkomunikasi dengan Presiden, dianggap melompati rantai komando tradisional Pentagon.
Selain perselisihan kebijakan, Phelan juga terlibat dalam penyelidikan etika terkait hubungannya dengan donatur Partai Republik dan kepemilikan saham di perusahaan pertahanan. Ketegangan dengan Wakil Menteri Angkatan Laut Hung Cao, yang kini menjabat sebagai pejabat sipil nomor dua, menambah atmosfer tidak stabil di dalam birokrasi militer.
Dampak terhadap Operasi Maritim AS
Penggantian mendadak Phelan terjadi pada fase krusial operasi blokade di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak yang menyumbang sekitar 20 % pasokan global. Tanpa kepemimpinan yang stabil, koordinasi antara armada kapal perang, pesawat patroli, dan kapal perusak yang mengawal tanker seperti Dorena menjadi lebih rentan terhadap kesalahan taktis. Sementara itu, serangan Iran terhadap kapal dagang meningkatkan tekanan bagi AS untuk mempercepat penegakan hukum maritim dan mengamankan jalur perdagangan internasional.
Pengganti sementara Phelan, Wakil Menteri Hung Cao, diharapkan dapat menstabilkan situasi internal dan melanjutkan agenda pembangunan kapal yang selaras dengan kebijakan pertahanan terkini. Namun, kejelasan mengenai arah strategi kapal perang—apakah tetap pada armada besar atau beralih ke platform tak berawak—masih menjadi pertanyaan besar yang akan menentukan alokasi anggaran Pentagon selama sisa konflik.
Secara keseluruhan, pemecatan John Phelan mencerminkan dinamika politik dalam negeri AS yang memengaruhi kebijakan luar negeri. Ketegangan antara visi politik Presiden Trump dan prioritas operasional militer menimbulkan gejolak yang dapat memengaruhi efektivitas AS dalam menanggulangi ancaman Iran di perairan strategis.
Ke depan, pengawasan terhadap proses penggantian pimpinan militer dan keputusan strategis terkait pembangunan armada akan menjadi indikator utama stabilitas Pentagon dalam menghadapi konflik yang masih berkecamuk.










