PSPK – 07 April 2026 | Singapura – Kawasan ASEAN+3 diproyeksikan tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang solid dalam beberapa tahun ke depan, meskipun tekanan global, terutama konflik di Timur Tengah, semakin meningkat.
Laporan tahunan ASEAN+3 Regional Economic Outlook (AREO) 2026 yang dirilis oleh ASEAN+3 Macroeconomic Research Office (AMRO) menargetkan pertumbuhan ekonomi kawasan sekitar 4,0 % pada tahun 2026 dan 2027. Pada tahun 2025, ekonomi kawasan tumbuh 4,3 %, melampaui proyeksi sebelumnya sebesar 3,8 %.
Faktor penopang utama meliputi konsumsi domestik yang kuat, ekspor yang solid—terutama dari sektor semikonduktor yang dipicu perkembangan kecerdasan buatan—dan investasi yang terus berlanjut.
| Tahun | Pertumbuhan Ekonomi (%) | Inflasi (%) |
|---|---|---|
| 2025 | 4.3 | 0.9 |
| 2026 | 4.0 | 1.4 |
| 2027 | 4.0 | 1.5 |
Meski inflasi diperkirakan naik secara bertahap, level tersebut masih tergolong moderat dan mencerminkan stabilitas harga yang relatif terjaga.
Kepala Ekonom AMRO, Dong He, mengingatkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah telah mengubah peta risiko secara signifikan. Ia menilai bahwa meskipun risiko kini condong negatif, kawasan ASEAN+3 lebih siap menghadapi guncangan energi dibandingkan periode sebelumnya.
Dampak konflik Timur Tengah akan sangat bergantung pada durasi dan intensitasnya. Jika berlarut-larut, tekanan dapat meluas ke biaya produksi industri, logistik, harga pangan, sektor pariwisata, dan aliran remitansi. Tingkat dampak juga bervariasi antarnegara, tergantung pada ketergantungan impor energi, kekuatan cadangan, serta ruang kebijakan masing‑masing.
AMRO menekankan pentingnya fleksibilitas kebijakan. Bank sentral di kawasan diminta menjaga stabilitas pasar keuangan dan siap merespons tekanan inflasi yang persisten, sementara kebijakan fiskal diharapkan terarah pada perlindungan kelompok rentan tanpa menambah tekanan inflasi.
Selain tantangan jangka pendek, laporan menyoroti perubahan struktural yang memperkuat ketahanan kawasan. Selama dua dekade terakhir, integrasi ekonomi intra‑regional semakin dalam, dengan jaringan produksi yang lebih terhubung dan ketergantungan yang lebih besar pada permintaan dalam kawasan.
Porsi ekspor berbasis nilai tambah ke Amerika Serikat telah menurun dari sekitar sepertiga menjadi 20 %, sementara kontribusi permintaan intra‑regional mendekati 30 %. Saat ini, ASEAN+3 menjadi salah satu pasar terbesar dunia, menyumbang sekitar 28 % terhadap permintaan akhir global, menandai pergeseran peran dari “pabrik dunia” ke pusat pertumbuhan berbasis permintaan domestik dan regional.
Ke depan, penguatan kerja sama regional, percepatan transisi energi hijau, serta keterbukaan perdagangan dan investasi dipandang sebagai kunci untuk menjaga momentum transformasi dan meningkatkan ketahanan terhadap guncangan global.












