Project Seru Penuh Kejutan

Warga Pedalaman Sikka Minta Pemerintah Bangun Jembatan Permanen Karena Harus Bertaruh Nyawa Menyeberangi Kali

March 27, 2026 • 0 Views
Warga Pedalaman Sikka Minta Pemerintah Bangun Jembatan Permanen Karena Harus Bertaruh Nyawa Menyeberangi Kali
Warga Pedalaman Sikka Minta Pemerintah Bangun Jembatan Permanen Karena Harus Bertaruh Nyawa Menyeberangi Kali

PSPK – 27 Maret 2026 | Di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, warga Dusun Lewomudat masih harus mengandalkan jembatan bambu darurat untuk menyeberangi Kali Kopakemak. Jembatan yang dibangun pada Desember 2025 hanya terdiri dari empat batang bambu dan satu sisi pagar kayu sebagai pegangan, sehingga menimbulkan rasa khawatir setiap kali hujan deras.

Jembatan tersebut menghubungkan Desa Waipaar dengan Desa Ojang, dan menjadi satu‑satunya jalur bagi warga setempat, termasuk anak‑anak sekolah, untuk mencapai fasilitas pendidikan di SDN Kolit dan SMP Negeri Ojang. Siswi kelas IX SMP Ojang, Noviana Male, mengungkapkan bahwa sebelum jembatan darurat ada, mereka harus menempuh tiga kilometer berjalan kaki sambil menyeberangi aliran sungai yang kerap meluap. Saat hujan lebat, anak‑anak bahkan terpaksa menginap di rumah keluarga di Kolit karena tidak dapat kembali ke desa asal.

Kondisi jembatan darurat yang rapuh membuat orang tua khawatir akan keselamatan anak‑anak mereka. Ibu Edeltrudis Darince, 43 tahun, menjelaskan bahwa ketika arus sungai deras, ia harus menggendong anaknya menembus aliran demi menjaga seragam tetap kering. Jika banjir besar terjadi, mereka tidak memiliki pilihan selain kembali ke kampung halaman, meski itu berarti kehilangan hari belajar.

Selain menghambat pendidikan, akses yang terbatas juga memperparah masalah komunikasi. Sinyal telepon dan internet di daerah tersebut “hilang muncul”, sehingga informasi penting seperti tugas sekolah atau pengumuman resmi bisa tertunda hingga dua atau tiga hari. Listrik pun belum menjangkau seluruh dusun, membuat warga masih bergantung pada lampu pelita di malam hari dan harus menempuh perjalanan ke Kolit hanya untuk mengisi daya ponsel.

Guru SDN Kolit, Diana Lewar, mengonfirmasi bahwa sekitar 15 anak dari Dusun Lewomudat belajar di sekolahnya. Pada hari hujan atau angin kencang, pihak sekolah tidak memaksa mereka datang, melainkan menyesuaikan jadwal ujian dan memberikan materi yang terlewat pada saat ada jam kosong. Untuk ujian semester atau akhir, sekolah biasanya menyarankan siswa dan orang tua menginap sementara di rumah keluarga di Kolit agar tidak terhambat oleh kondisi jalan.

Kesulitan akses juga berdampak pada ekonomi warga. Martha Hia, 72 tahun, yang menjual hasil kebun seperti jambu mete, kemiri, dan kakao di Pasar Boganatar, harus menunggu truk pikap di Kolit setelah menempuh perjalanan kaki jauh. Tanpa jembatan, ia harus memikul hasil kebun hingga lima kilometer ke Kolit, namun sejak jembatan darurat selesai, beban fisik berkurang meski tetap mengandalkan truk yang datang tidak teratur.

Germanus Geri, warga Dusun Kolit yang tinggal di Desa Kringa, menyoroti dampak kesehatan. Ia pernah harus mengevakuasi anggota keluarga yang sakit ke Puskesmas Boganatar, jarak sekitar 15 kilometer, dengan melewati hutan dan sungai. Biaya transportasi mencapai Rp10.000‑Rp15.000 per perjalanan dengan kendaraan umum, atau Rp40.000 dengan ojek. Pada kasus jenazah, keluarga harus menandu melalui sungai yang dalam, menambah beban emosional dan fisik.

Warga telah berulang‑ulang mengajukan permohonan pembangunan jembatan permanen melalui Musrenbang desa, kecamatan, dan bahkan dalam pertemuan dengan calon anggota DPRD. Kepala Desa Ojang, Petrus Pade, mengatakan bahwa tiap tahun mereka menyampaikan kebutuhan tersebut kepada Dinas PUPR dan wakil rakyat, namun jawaban yang diterima selalu menyebut keterbatasan anggaran dan kebutuhan efisiensi.

Berbagai pihak, termasuk Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Sikka, belum memberikan respons konkret. Pada upaya menghubungi Kepala Dinas PUPR, Margaretha Movaldes Da Maga Bapa, hanya memperoleh jawaban singkat bahwa ia sedang rapat di kantor bupati.

Dengan kondisi yang masih mengancam keselamatan anak‑anak sekolah, menghambat aktivitas ekonomi, serta memperumit akses layanan kesehatan, harapan warga tetap tinggi. Mereka menuntut pemerintah segera membangun jembatan permanen yang kokoh, bukan sekadar solusi darurat, demi meningkatkan kualitas hidup dan membuka peluang pembangunan yang lebih luas di wilayah pedalaman Sikka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *