PSPK – 04 Maret 2026 | Presiden Donald Trump pada Selasa 3 Maret mengumumkan bahwa Angkatan Laut Amerika Serikat siap mengawal kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz bila diperlukan, serta memerintahkan Development Finance Corporation (DFC) untuk menyediakan asuransi risiko politik dan jaminan keuangan bagi perdagangan maritim di Teluk. Kebijakan ini merupakan langkah agresif pemerintah Trump untuk menahan lonjakan harga energi setelah serangkaian aksi militer di Timur Tengah meningkatkan ancaman bagi jalur pengiriman minyak utama.
Harga minyak mentah dunia telah naik tajam sejak serangan gabungan Israel‑AS terhadap instalasi Iran pada akhir pekan lalu. Meskipun demikian, para pemilik kapal dan analis meragukan bahwa pengawalan militer dan dukungan asuransi saja dapat menurunkan harga secara signifikan.
Poin utama kebijakan:
- DFC, lembaga pemerintah yang berdiri sejak 2019, diminta menyediakan polis asuransi politik untuk mengurangi beban premi tinggi yang kini dibebankan pada operator tanker.
- Angkatan Laut AS memiliki 12 kapal perang, termasuk satu kapal induk, di kawasan Timur Tengah yang dapat dialokasikan untuk mengawal kapal komersial.
- Jika harga energi tetap tinggi, hal ini dapat mengancam dukungan politik Partai Republik dalam pemilihan paruh waktu November.
Premi asuransi risiko perang telah melambung setelah beberapa kapal tanker mengalami kerusakan atau terdampar di Selat Hormuz, jalur yang menyumbang sekitar 20% pasokan minyak dunia. Beberapa perusahaan asuransi bahkan menurunkan atau menghentikan cakupan, memaksa operator mencari rute alternatif yang lebih mahal.
Langkah serupa pernah diambil pada masa konflik Iran‑Irak tahun 1980‑an serta setelah serangan 11 September 2001, ketika Washington mengganti bendera tanker dan menyediakan pengawal militer. Namun, sumber perkapalan memperingatkan bahwa kapasitas pengawalan AS terbatas dan sebagian kapal masih dialokasikan untuk operasi ofensif melawan Iran.
Rohit Rathod, analis senior Vortexa, menilai bahwa meski kebijakan ini dapat membuka celah bagi beberapa kapal untuk berlayar, risiko serangan tetap tinggi dan premi asuransi kemungkinan akan tetap mahal. Kevin Book dari ClearView Energy Partners menekankan bahwa faktor geopolitik yang lebih luas, termasuk potensi gangguan pada lokasi produksi minyak, tetap menjadi ancaman utama bagi stabilitas harga.
Pemerintah Trump belum mengumumkan rencana penggunaan Cadangan Minyak Strategis, namun sumber internal menyatakan bahwa sinyal penggunaan cadangan dapat muncul bila tekanan harga berlanjut.










