PSPK – 20 Maret 2026 | Pasar logam mulia kembali menjadi sorotan utama setelah harga emas dunia menukik tajam ke level terendah dalam sebulan. Penurunan tajam tersebut memicu kegelisahan di kalangan investor, terutama menjelang periode Lebaran yang biasanya menjadi momen pembelian emas untuk tabungan keluarga.
Pada penutupan perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, harga emas spot tercatat naik hanya 0,8 persen menjadi US$4.856,82 per ons (sekitar Rp82,2 juta dengan kurs Rp16.930 per dolar). Namun, satu hari sebelumnya harga logam kuning ini anjlok 3,7 persen, menandakan volatilitas yang tinggi dalam waktu singkat.
Faktor-Faktor Penurunan Harga
Analisis para pelaku pasar mengidentifikasi tiga pendorong utama yang menyebabkan penurunan harga emas:
- Penguatan Dolar AS: Dolar yang kembali menguat setelah periode melemah membuat emas menjadi relatif lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
- Kebijakan Federal Reserve (Fed): Meskipun Fed menahan suku bunga pada 3,5 persen, ekspektasi penurunan suku bunga di masa mendatang belum terkonfirmasi, menambah ketidakpastian.
- Geopolitik dan Harga Minyak: Konflik antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran, serta serangan Iran ke fasilitas energi di Timur Tengah, memicu lonjakan harga minyak di atas US$110 per barel, yang pada gilirannya menekan permintaan emas sebagai safe haven.
Pergerakan Logam Mulia Lainnya
Selain emas, logam mulia lain juga mengalami pergerakan signifikan pada hari yang sama:
| Logam | Perubahan | Harga (US$ per ons) |
|---|---|---|
| Perak | +1,5% | 76,52 |
| Platinum | +0,6% | 2.035,25 |
| Palladium | +1,2% | 1.492,25 |
Meski logam lain menunjukkan kenaikan, tekanan pada emas tetap kuat karena investor masih mengawasi langkah Fed dan dinamika geopolitik.
Dampak pada Pasar Domestik
Di pasar dalam negeri, harga emas Antam turun menjadi Rp2.893.000 per gram, turun Rp50.000 dibandingkan hari sebelumnya. Penurunan ini mencerminkan dampak langsung fluktuasi pasar internasional terhadap harga logam mulia di Indonesia.
Investor ritel yang biasanya membeli emas fisik untuk persiapan Lebaran kini dihadapkan pada dilema: menunggu harga stabil atau membeli pada saat harga masih rendah namun berisiko turun lebih jauh.
Sentimen Investor dan Proyeksi Kedepan
Para analis menekankan pentingnya kehati-hatian. Kelemahan dolar AS dapat memberi ruang bagi emas untuk pulih, namun ekspektasi kebijakan suku bunga Fed yang belum pasti serta ketegangan geopolitik yang masih tinggi dapat menahan laju pemulihan. “Momentum dolar AS masih menjadi faktor penentu,” kata Waterer, analis KCM Trade, yang dikutip CNBC Internasional.
Proyeksi jangka menengah menunjukkan bahwa bila Fed tetap menjaga suku bunga di level 3,5 persen dan konflik di Timur Tengah berlanjut, emas dapat mengalami koreksi lebih dalam dalam enam bulan ke depan. Namun, bila ada sinyal pemotongan suku bunga atau penurunan intensitas konflik, emas berpotensi kembali menguat dan menembus level US$5.000 per ons.
Investor institusional masih menempatkan emas sebagai diversifikasi portofolio, terutama di tengah inflasi yang dipicu oleh lonjakan harga minyak. Sementara itu, trader harian lebih fokus pada pergerakan teknikal dan volatilitas harian yang tinggi.
Dengan kondisi pasar yang masih belum menentu, para pelaku pasar disarankan untuk memantau data ekonomi AS, keputusan Fed, serta perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah sebelum mengambil keputusan investasi signifikan.
Secara keseluruhan, meskipun ada sedikit pemulihan, sinyal bahaya masih mengintai. Harga emas dunia berada di ambang titik kritis, menuntut kewaspadaan ekstra dari semua pihak yang terlibat dalam pasar logam mulia.












