PSPK – 24 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis, 23 April 2026, terjun 2,16% ke level 7.378,60. Di tengah gejolak tersebut, aksi beli bersih (net buy) investor asing tercatat mencapai Rp473 miliar, menandakan ketertarikan kuat pada sejumlah saham tertentu meski pasar secara umum berada di zona merah.
Kondisi Pasar pada Hari Itu
Volume perdagangan meningkat tajam, mencatat 53,7 miliar lembar saham dengan frekuensi transaksi mencapai 3,07 juta kali. Nilai total transaksi melaju hingga Rp20,4 triliun, sementara kapitalisasi pasar berada pada Rp13.206 triliun. Meskipun mayoritas saham (505 saham) berada di zona merah, aksi beli bersih asing berhasil menstabilkan beberapa sektor.
Rekapan Net Buy dan Net Sell Asing
Data RTI menunjukkan bahwa selain net buy sebesar Rp473 miliar, investor asing juga melakukan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp978,65 miliar secara keseluruhan pada hari yang sama. Penjualan terbesar terjadi di pasar reguler dengan nilai Rp1,36 triliun. Sebaliknya, pasar tunai dan negosiasi mencatat net buy sebesar Rp385,80 miliar, menandakan pergeseran strategi antara segmen pasar.
Saham-saham yang Menjadi Target Net Buy Asing
Beberapa saham menonjol sebagai pilihan utama investor asing. PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) memimpin dengan net buy sebesar Rp147,25 miliar, diikuti oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) dengan Rp109,89 miliar, serta PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) yang mencatat Rp105,81 miliar. Ketiga perusahaan ini berada di sektor energi dan perbankan, menunjukkan minat asing pada sektor yang dianggap tahan banting.
Selain itu, saham-saham lain seperti PT Adaro Energy Tbk (ADRO), PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) juga mengalami akumulasi net buy yang signifikan, meskipun angka pastinya tidak diungkap secara rinci dalam laporan. Kenaikan permintaan pada saham-saham ini mencerminkan ekspektasi pertumbuhan laba dan stabilitas dividend bagi para investor luar negeri.
Saham-saham yang Terkena Net Sell Asing
Di sisi lain, sektor perbankan menjadi sasaran utama aksi jual. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) mencatat net sell terbesar sebesar Rp632,66 miliar, diikuti oleh PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan Rp304,04 miliar. Kedua bank tersebut mengalami penurunan harga masing-masing sebesar 2,47% dan 2,53%.
Saham-saham lain yang mengalami tekanan penjualan meliputi PT Astra International Tbk (ASII) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), yang keduanya berada dalam zona merah akibat aksi jual masal oleh investor asing.
Implikasi Bagi Investor Lokal
Bagi investor domestik, pergerakan net buy asing memberikan sinyal penting. Saham-saham yang berhasil menarik dana asing biasanya memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Oleh karena itu, para pelaku pasar Indonesia dapat mempertimbangkan untuk menambah posisi pada MEDC, BBNI, dan ENRG sebagai langkah diversifikasi yang berpotensi menghasilkan return yang lebih stabil.
Sementara itu, tekanan pada sektor perbankan menuntut kehati-hatian. Investor yang memiliki eksposur tinggi pada BBRI atau BMRI sebaiknya memantau perkembangan kebijakan moneter dan laporan keuangan kuartalan untuk mengantisipasi volatilitas lebih lanjut.
Secara keseluruhan, aksi net buy asing sebesar Rp473 miliar pada hari IHSG anjlok menegaskan bahwa pasar modal Indonesia tetap menjadi tujuan investasi menarik bagi modal luar negeri, terutama pada sektor energi dan keuangan yang menunjukkan daya tahan terhadap gejolak pasar.
Para pelaku pasar disarankan untuk mengikuti pergerakan net flow harian, memperhatikan laporan RTI, dan mengkaji fundamental perusahaan secara mendalam sebelum mengambil keputusan investasi.












