Project Seru Penuh Kejutan

Rupiah Melemah di BNI dan BRI: Kurs Dolar AS Menguat ke Rp17.000 pada Minggu, 8 Maret 2026

March 9, 2026 • 0 Views
Rupiah Melemah di BNI dan BRI: Kurs Dolar AS Menguat ke Rp17.000 pada Minggu, 8 Maret 2026
Rupiah Melemah di BNI dan BRI: Kurs Dolar AS Menguat ke Rp17.000 pada Minggu, 8 Maret 2026

PSPK – 09 Maret 2026 | Pasar valuta asing Indonesia kembali menunjukkan volatilitas pada Minggu, 8 Maret 2026. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) melemah di kedua bank utama, Bank Negara Indonesia (BNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BRI), menembus level Rp17.000 per dolar. Data dari Bloomberg dan Bank Indonesia mengonfirmasi bahwa kurs jual di BNI dibuka pada Rp17.001, sementara BRI mencatat penutupan pada Rp16.949. Selama sesi perdagangan, rentang pergerakan berada di antara Rp16.920 hingga Rp17.010.

Pergerakan Kurs Hari Ini

Menurut Bloomberg, pada Jumat (6/3/2026) rupiah melemah 20 poin atau 0,12% menjadi Rp16.925 per dolar. Pada Minggu, indeks dolar AS menguat 0,31% ke level 99,01, menambah tekanan pada mata uang Asia. Di Indonesia, BNI membuka transaksi pada Rp17.001 (penurunan 0,45% atau 76 poin) dan BRI menutup pada Rp16.949 (penurunan 0,14%).

Faktor-Faktor Internal yang Memengaruhi

  • Penurunan Prospek Fitch Ratings: Fitch menurunkan outlook Indonesia dari stabil menjadi negatif, memicu kekhawatiran investor.
  • Rasio Pajak (Tax Ratio): Pemerintah berupaya meningkatkan tax ratio yang berada di kisaran 9‑10% PDB, namun angka terbaru menunjukkan penurunan menjadi 9,31% pada 2025.
  • Belanja Sosial: Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap sekitar 1,3% PDB 2025‑2029, menambah beban fiskal.

Pengaruh Eksternal

  • Konflik Timur Tengah: Eskalasi antara AS, Israel, dan Iran meningkatkan harga minyak mentah, berpotensi menimbulkan inflasi global baru.
  • Sentimen Pasar Global: Investor beralih ke safe‑haven seperti dolar AS, menguatkan indeks dolar dan melemahkan rupiah serta mata uang Asia lainnya (yen, won, rupee, ringgit).

Implikasi terhadap Ekonomi Domestik

Pelemahan rupiah berdampak pada harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, serta tekanan pada inflasi domestik. Data Trading Economics mencatat inflasi tahunan Indonesia mencapai 4,76% pada Februari 2026, melampaui target BI (1,5‑3,5%). Kenaikan harga pangan, perumahan, dan pakaian memperburuk daya beli masyarakat.

Prospek Minggu Depan

Para analis memproyeksikan rentang nilai tukar rupiah antara Rp16.850‑Rp17.010 per dolar selama minggu ini, tergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global. Jika konflik Timur Tengah berlanjut, permintaan dolar dapat tetap tinggi, menahan pergerakan rupiah ke arah yang lebih lemah.

Secara keseluruhan, meski BNI dan BRI mencatat nilai tukar yang hampir sama, dinamika pasar menunjukkan bahwa rupiah berada dalam tekanan berat. Kebijakan fiskal yang lebih ketat, peningkatan tax ratio, dan upaya menurunkan defisit dapat menjadi kunci untuk menstabilkan nilai tukar dalam jangka menengah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *