Project Seru Penuh Kejutan

Ramadhan di Antara Doa, Rindu, dan Perpisahan

March 21, 2026 • 0 Views
Ramadhan di Antara Doa, Rindu, dan Perpisahan
Ramadhan di Antara Doa, Rindu, dan Perpisahan

PSPK – 21 Maret 2026 | Baru-baru ini sebuah puisi berjudul “Ramadhan di Antara Doa, Rindu, dan Perpisahan” diterbitkan di Medcom, menyoroti kedalaman spiritualitas Ramadan melalui metafora senja, doa, dan perasaan perpisahan. Puisi tersebut ditulis oleh Dr. Hj. Ayu Alwiyah Aljufri, anggota Dewan Pertimbangan DPP Partai NasDem.

Puisi membuka dengan gambaran langit senja yang perlahan memudar, menandai hadirnya Ramadan sebagai pelukan hangat yang menyapa hati yang lama berdebu. Cahaya Ramadan digambarkan turun satu per satu, menandai awal perjalanan spiritual yang baru.

Selanjutnya, puisi menekankan bahwa puasa bukan sekadar menahan rasa lapar dan haus, melainkan latihan menundukkan ego dan menenangkan jiwa. Kekosongan perut menjadi simbol ruang bagi hati belajar bersabar dan berserah.

Setiap sujud yang lebih lama mengundang rindu yang tak terucapkan, sebuah keinginan untuk melepaskan dosa dan menggapai harapan yang lebih bebas. Rasa rindu ini tidak hanya ditujukan kepada sesama, melainkan kepada Sang Pencipta.

Malam Ramadan digambarkan sebagai keheningan yang hangat, di mana doa‑doa mengalir tanpa sekat. Air mata yang jatuh tanpa suara menjadi saksi cinta yang tulus kepada Allah.

Pada bagian berikutnya, Ramadan diperlakukan sebagai cermin bagi jiwa yang lelah, memberi kesempatan untuk kembali pulang dengan arah yang lebih jelas dan hati yang lebih berserah.

Menjelang akhir Ramadan, perasaan perpisahan muncul bak angin yang pamit tanpa suara, meninggalkan jejak dalam dada dan menimbulkan pertanyaan introspektif: “Sudahkah kita benar‑benar mencintai?”

Suasana setelah Ramadan berubah; tidak lagi terdengar sahur yang menggugah, tidak ada lagi adzan Maghrib yang dinanti. Rindu tetap bergetar di hati, menandai perpisahan sementara yang penuh harap.

Penulis mengakhiri puisi dengan harapan bahwa bila perpisahan ini bersifat sementara, umat akan bertemu kembali di Ramadan berikutnya dengan hati yang lebih bersih, setia, dan cinta yang nyata.

Puisi ditutup dengan ucapan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H serta permohonan maaf lahir dan batin, menegaskan bahwa semangat Ramadan seharusnya tetap tinggal dalam jiwa yang lapang meski hari raya telah tiba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *