Project Seru Penuh Kejutan

Mojtaba Khamenei: Sosok Misterius dengan Rekam Jejak Militer yang Kuat

March 9, 2026 • 0 Views
Mojtaba Khamenei: Sosok Misterius dengan Rekam Jejak Militer yang Kuat
Mojtaba Khamenei: Sosok Misterius dengan Rekam Jejak Militer yang Kuat

PSPK – 09 Maret 2026 | Teheran pada Minggu, 8 Maret 2026, secara resmi mengangkat Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Agung baru Republik Islam Iran. Penunjukan ini diumumkan oleh lembaga ulama negara dan didukung oleh suara bulat Majelis Ahli, menandai transisi kepemimpinan setelah kematian Ali Khamenei dalam serangan gabungan AS‑Israel pada 28 Februari lalu.

Mojtaba Khamenei, berusia 56 tahun, dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup. Ia jarang muncul di media, tidak memberi kuliah, khotbah, atau pidato politik publik. Namun, posisi sebagai putra mantan pemimpin membuatnya menjadi kandidat yang diprediksi banyak pihak sejak lama. Kenaikan ia dipandang sebagai sinyal bahwa faksi garis keras masih menguasai struktur kekuasaan di Iran dan bahwa Tehran tidak berencana membuka ruang negosiasi dengan Barat dalam waktu dekat.

Keunggulan utama Mojtaba terletak pada ikatan kuatnya dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Sejak muda, ia berkiprah di Batalyon Habib pada masa Perang Iran‑Irak, membangun jaringan yang kini tersebar di kalangan militer dan intelijen. Hubungan tersebut memberinya akses langsung ke struktur komando IRGC serta kemampuan menggerakkan pasukan paramiliter Basij.

Meski demikian, nama Mojtaba tidak lepas dari tuduhan pelanggaran hak asasi manusia. Selama hampir dua dekade, lawan politik menudingnya terlibat dalam penindasan demonstran, antara lain:

  • Gerakan Hijau 2009: Diduga memanfaatkan Basij untuk menekan aksi pro‑demokrasi.
  • Protes Januari 2026: Basij kembali terlibat dalam penindasan brutal yang menewaskan ribuan orang menurut laporan PBB.

Sampai kini, tidak ada pernyataan resmi dari Mojtaba maupun pihak terkait mengenai tuduhan tersebut. Penunjukan ini juga menuai kecaman keras dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang menyatakan penolakan terhadap pemimpin baru Iran dan mengancam konsekuensi bagi negara tersebut bila tidak mendapatkan persetujuan Washington.

Langkah Iran ini mempertegas arah kebijakan luar negeri yang lebih konfrontatif, sekaligus menegaskan peran militer dalam politik domestik. Ke depan, dinamika internal dan tekanan internasional akan menjadi faktor penentu stabilitas rezim baru ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *