Project Seru Penuh Kejutan

Mengenal Ali Larijani Panglima Perang Iran yang Sahid Serangan Israel

March 18, 2026 • 0 Views
Mengenal Ali Larijani Panglima Perang Iran yang Sahid Serangan Israel
Mengenal Ali Larijani Panglima Perang Iran yang Sahid Serangan Israel

PSPK – 18 Maret 2026 | Ali Larijani lahir pada 3 Juni 1958 di Najaf, Irak, dalam sebuah keluarga kaya asal Amol, Iran. Ia tumbuh dalam dinasti yang memiliki pengaruh kuat di dunia politik dan keagamaan Iran. Ayahnya, Mirza Hashem Amoli, dikenal sebagai cendekiawan agama terkemuka, sementara saudara-saudaranya juga pernah memegang posisi penting di lembaga peradilan dan Majelis Pakar.

Pada usia dua puluh tahun, Larijani menikah dengan Farideh Motahari, putri Morteza Motahhari yang merupakan orang kepercayaan dekat pendiri Republik Islam Iran, Ruhollah Khomeini. Keluarga Larijani menyeimbangkan antara latar belakang konservatif dan aspirasi modern; putrinya, Fatemeh, menempuh pendidikan kedokteran di Universitas Teheran dan melanjutkan spesialisasi di Amerika Serikat.

Berbeda dengan banyak rekan-rekannya yang hanya menekuni pendidikan agama, Larijani menempuh jalur akademik sekuler. Ia meraih gelar sarjana Matematika dan Ilmu Komputer dari Universitas Teknologi Sharif pada tahun 1979, kemudian melanjutkan studi master dan doktor di bidang filsafat Barat di Universitas Teheran, dengan fokus pada pemikiran Immanuel Kant.

Setelah revolusi 1979, Larijani bergabung dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) pada awal 1980-an, sebelum beralih ke karier politik. Ia menjabat sebagai Menteri Kebudayaan pada masa Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani (1994‑1997) dan memimpin lembaga penyiaran negara IRIB dari 1994 hingga 2004. Kebijakan media yang dianggap restriktif selama masa kepemimpinannya memicu kritik dari kaum reformis.

Karier legislatifnya dimulai pada tahun 2008 ketika ia terpilih mewakili Qom di Majlis. Ia kemudian memimpin parlemen selama tiga periode berturut‑turut (2008‑2020), memainkan peran kunci dalam pembentukan kebijakan domestik dan luar negeri, termasuk persetujuan kesepakatan nuklir JCPOA pada 2015.

Larijani sempat mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2005, namun tidak melaju ke putaran kedua. Pada tahun yang sama ia diangkat menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi dan kepala negosiator nuklir Iran, posisi yang ia tinggalkan pada 2007 karena perbedaan pandangan dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad.

Setelah keluar dari kepemimpinan parlemen, ia kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan 2021 dan 2024, namun keduanya dibatalkan oleh Dewan Penjaga Konstitusi tanpa penjelasan resmi. Banyak analis menilai langkah tersebut sebagai upaya membuka jalan bagi kandidat garis keras Ebrahim Raisi.

Pada Agustus 2025, Presiden Masoud Pezeshkian menunjuk kembali Larijani sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi. Beberapa bulan kemudian, pada Oktober 2025, Larijani mengumumkan pembatalan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), menyatakan bahwa laporan IAEA “tidak lagi efektif”.

Walaupun dikenal keras dalam kebijakan keamanan, Larijani masih dianggap pragmatis karena perannya dalam mendukung kesepakatan nuklir 2015. Beberapa minggu sebelum eskalasi terbaru, ia terlibat dalam negosiasi tidak langsung dengan Amerika Serikat melalui mediasi Oman, menuduh Israel berusaha menyabotase jalur diplomatik untuk memicu perang.

Jabatan Periode
Menteri Kebudayaan 1994‑1997
Kepala IRIB 1994‑2004
Ketua Majlis (Parlemen) 2008‑2020
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi 2005‑2007; Agustus 2025‑sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *