Project Seru Penuh Kejutan

Mayoritas Saham Asia Turun Saat Krisis Timur Tengah Memanas, Minyak Melemah

March 7, 2026 • 0 Views
Mayoritas Saham Asia Turun Saat Krisis Timur Tengah Memanas, Minyak Melemah
Mayoritas Saham Asia Turun Saat Krisis Timur Tengah Memanas, Minyak Melemah

PSPK – 07 Maret 2026 | Pasar saham di sebagian besar negara Asia mencatat penurunan pada Jumat, 6 Maret, menyusul ketegangan yang terus memanas di Timur Tengah. Konflik antara Amerika Serikat‑Israel dan Iran, serta serangan yang meluas di Teluk, menimbulkan kecemasan akan kelanjutan perang dan dampaknya pada pasokan energi global.

Harga minyak mentah telah melonjak sekitar satu‑kelima sejak 27 Februari, memicu kekhawatiran akan tekanan inflasi baru yang dapat memaksa bank sentral meninjau kembali kebijakan penurunan suku bunga. Analis pasar menegaskan bahwa volatilitas tetap tinggi dan pergerakan harga yang signifikan dapat terjadi ke arah mana pun.

Berbagai bursa regional menunjukkan penurunan serentak: Sydney, Wellington, Taipei, Manila, Mumbai, Bangkok, dan Jakarta semuanya tertekan, sementara Singapura hampir tidak berubah. Seoul, yang sebelumnya mengalami penurunan hampir 19 % pada awal minggu, berhasil pulih dan mengakhiri sesi dengan kondisi datar. Di Eropa, London, Paris, dan Frankfurt dibuka sedikit lebih tinggi.

Di sisi energi, meski terdapat sedikit perbaikan pada kontrak minyak utama, keduanya masih berada di zona kerugian. Pemerintah Amerika Serikat mempertimbangkan penggunaan cadangan strategis serta opsi lain untuk menahan kenaikan harga. Sementara itu, Gedung Putih sementara melonggarkan sanksi terhadap Rusia sehingga minyak Rusia dapat dijual ke India hingga awal April, dengan tujuan menjaga aliran minyak global.

Pengiriman melalui Selat Hormuz – yang menyumbang sekitar satu‑kelima pasokan minyak mentah dunia – hampir terhenti total, meskipun Iran belum secara resmi menutup selat tersebut. Presiden Amerika Serikat pada saat itu menjanjikan perlindungan bagi kapal‑kapal yang melintasi wilayah tersebut. China juga meminta kilang‑kilangnya menunda ekspor diesel dan bensin untuk menstabilkan pasar domestik.

Harga Brent telah naik sekitar 19 % dan WTI lebih dari 22 % sejak akhir pekan sebelumnya, menembus US$80 per barel untuk pertama kalinya sejak Januari tahun lalu. Para trader mengantisipasi pergerakan harga yang tajam ketika pasar dibuka kembali pada Senin, dengan fokus pada setiap perkembangan berita selama akhir pekan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *