PSPK – 12 April 2026 | Setelah gencatan senjata yang ditandatangani pada 8 April 2026 antara Amerika Serikat dan Iran, Pemerintah Tehran mengumumkan kebijakan baru yang memperbolehkan delapan negara untuk melintas melalui Selat Hormuz dengan rute khusus. Kebijakan ini menjadi sinyal awal pemulihan lalu lintas energi global setelah hampir enam minggu penutupan total selat strategis itu.
Negara‑negara yang Diizinkan
Menurut pernyataan resmi Kementerian Kelautan Iran, delapan negara yang telah diberikan izin melintasi Selat Hormuz meliputi:
Indonesia belum termasuk dalam daftar tersebut meski beberapa pihak di Jakarta telah mengajukan permohonan izin. Pemerintah Iran menyatakan bahwa proses evaluasi masih berlangsung dan tidak menutup kemungkinan penambahan negara lain di masa mendatang.
Rute Khusus dan Batasan Kapal
Semua kapal yang diizinkan harus menggunakan rute utara Selat Hormuz yang berada di perairan Iran, melewati zona perairan Pulau Qeshm dan Larak. Jalur ini sengaja dipilih untuk menghindari bagian selatan selat yang biasanya menjadi jalur utama perdagangan internasional. Iran menegaskan bahwa setiap kapal harus memperoleh izin tertulis sebelum memasuki wilayah tersebut.
Selain itu, otoritas Iran membatasi jumlah kapal yang dapat melintas menjadi 12 unit per hari. Tarif penggunaan jalur khusus diperkirakan mencapai Rp68 miliar per kapal, mencerminkan nilai strategis jalur tersebut bagi perdagangan minyak dunia.
Contoh Kapal yang Telah Melintas
Data pelayaran LSEG menunjukkan bahwa pada 11 April 2026 tiga kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) berhasil menembus rute khusus. Kapal tersebut adalah:
- Serifos (bendera Liberia) – disewa oleh perusahaan energi milik negara Thailand, PTT, dengan muatan minyak mentah dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab.
- Cospearl Lake (bendera China) – mengangkut minyak dari Irak.
- He Rong Hai (bendera China) – juga membawa minyak mentah dari Irak.
Kedua kapal China tersebut menandai kehadiran supertanker China pertama yang terlihat mengangkut minyak keluar dari Teluk Persia sejak konflik pecah. Kapal Serifos diperkirakan akan berlabuh di Pelabuhan Malaka, Malaysia pada 21 April mendatang, menegaskan peran Malaysia sebagai titik transit penting di Asia Tenggara.
Dampak terhadap Pasokan Minyak Global
Selama masa konflik, Iran menjadi satu-satunya negara yang tetap mengekspor minyak melalui Selat Hormuz, dengan volume rata‑rata sekitar 1,7 juta barel per hari pada bulan Maret. Keberhasilan tiga kapal VLCC tersebut melintasi selat menambah sekitar 6 juta barel minyak dalam satu hari, meskipun masih berada di bawah setengah kapasitas normal pra‑konflik.
Peningkatan aktivitas ini diharapkan dapat menurunkan tekanan pada harga minyak dunia, yang sempat melonjak tajam akibat penutupan jalur strategis yang menyumbang sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas cair global.
Prospek Ke depan
Jika Iran terus memperluas daftar negara yang diizinkan, kemungkinan besar akan terjadi peningkatan signifikan dalam volume pengiriman harian. Namun, faktor keamanan, terutama kehadiran unit IRGC di wilayah selat, serta dinamika diplomatik antara Amerika Serikat, Iran, dan negara‑negara lain, tetap menjadi variabel kunci.
Untuk Indonesia, langkah selanjutnya melibatkan negosiasi intensif dengan Tehran guna memperoleh izin serupa. Mengingat peran strategis Indonesia dalam rantai pasokan energi Asia, partisipasi negara ini dalam rute Hormuz dapat memperkuat posisi tawar Indonesia di pasar minyak internasional.
Secara keseluruhan, kebijakan baru Iran menandai titik balik penting dalam upaya memulihkan perdagangan energi setelah konflik. Meski masih banyak tantangan, terutama terkait kapasitas harian dan tarif tinggi, langkah ini membuka peluang bagi negara‑negara yang diizinkan, termasuk Malaysia dan Thailand, untuk kembali mengoptimalkan logistik energi mereka melalui jalur paling sempit namun vital di dunia.












