PSPK – 13 Maret 2026 | Manila – Konflik yang semakin meluas di Timur Tengah menjadi agenda utama pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN pada Jumat, 13 Maret, bersamaan dengan pertemuan virtual Menteri Luar Negeri untuk menilai dampaknya terhadap kawasan.
Filipina, yang memegang kepemimpinan ASEAN tahun ini, menjadi tuan rumah. Pejabat menyoroti potensi kenaikan harga minyak, gangguan pada logistik, serta implikasi pada arus perdagangan yang bergantung pada ekspor di wilayah tersebut.
Serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dua minggu lalu menewaskan sekitar 2.000 orang dan menutup Selat Hormuz, jalur yang mengalirkan kira‑kira satu per lima minyak dan LNG dunia ke Asia. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak melewati US$100 per barel.
Krisis ini menimbulkan kekhawatiran khusus bagi negara‑negara Asia Tenggara yang sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dan LNG dari Teluk. Filipina memperoleh sebagian besar minyaknya dari Timur Tengah, sementara pasokan LNG dari Qatar juga terhenti.
Beberapa negara ASEAN telah mengambil langkah konkret untuk meredam dampak tersebut:
- Filipina mempersingkat minggu kerja pemerintah untuk menghemat bahan bakar dan meminta penangguhan pajak cukai bahan bakar kepada Kongres.
- Vietnam menurunkan harga bahan bakar ritelnya setelah penurunan harga minyak global, meski memperingatkan fluktuasi harga ke depan.
- Thailand menghentikan ekspor energi ke semua negara kecuali Laos dan Myanmar.
Wakil Menteri Perdagangan Filipina, Allan Gepty, menekankan pentingnya sinkronisasi tindakan regional. Menteri‑menteri Luar Negeri ASEAN menyatakan peningkatan konflik sebagai hal yang sangat disayangkan, menyerukan penghentian permusuhan segera, perlindungan warga sipil, dan penyelesaian perbedaan melalui dialog sesuai hukum internasional.










