Project Seru Penuh Kejutan

IHSG melemah tajam di tengah terjunnya Rupiah ke Rp 17.300 per dolar: Apa yang terjadi?

April 24, 2026 • 0 Views
IHSG melemah tajam di tengah terjunnya Rupiah ke Rp 17.300 per dolar: Apa yang terjadi?
IHSG melemah tajam di tengah terjunnya Rupiah ke Rp 17.300 per dolar: Apa yang terjadi?

PSPK – 24 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan tekanan signifikan pada perdagangan Jumat, 24 April 2026, setelah rupiah menembus level Rp 17.300 per dolar AS. Analis memperkirakan IHSG melemah lebih lanjut, dengan target penutupan di kisaran 7.300‑7.350.

Kondisi ini menguatkan prediksi bahwa IHSG melemah lebih jauh dalam sesi-sesi berikutnya.

Latar Belakang Nilai Tukar Rupiah

Rupiah mengalami penurunan tajam pada sesi perdagangan kemarin, menutup pada Rp 17.286 per dolar di pasar spot. Penurunan ini menandai level terburuk dalam sejarah penutupan rupiah dan menempatkannya sebagai mata uang yang paling lemah di kawasan Asia pada saat itu. Penyebab utama meliputi kelanjutan penutupan Selat Hormuz yang meningkatkan harga minyak, menimbulkan kekhawatiran inflasi dan defisit anggaran yang melebar.

Proyeksi Penurunan IHSG

Phintraco Sekuritas mencatat bahwa indikator teknikal Stochastic RSI berada di area pivot menurun, menandakan potensi kelanjutan pelemahan. Dengan demikian, IHSG diproyeksi turun ke level 7.308 pada pembukaan perdagangan, dan dapat menguji zona koreksi 7.245‑7.354 yang disebutkan MNC Sekuritas. Pada hari Kamis, 23 April, IHSG tercatat turun 2,16 persen menjadi 7.378,606, sementara pada sesi pertama Jumat indeks turun sekitar 1,27 persen menjadi 7.445,96.

Rekomendasi Analis

Berbagai rumah riset memberikan daftar saham yang dianggap lebih tahan banting dalam situasi pasar yang bergejolak:

  • Phintraco Sekuritas: BBTN, ELSA, INDY, TSPC, MYOR.
  • MNC Sekuritas: ADRO, INKP, OASA, WIFI.

Daftar ini mencerminkan ekspektasi bahwa sektor perbankan, energi, dan infrastruktur akan lebih stabil dibandingkan sektor yang sensitif terhadap nilai tukar.

Faktor Geopolitik dan Risiko Fiskal

Ketegangan di Timur Tengah, khususnya konflik di Selat Hormuz dan potensi penyitaan kapal, menambah sentimen risk‑off di pasar Asia. Selain itu, kebijakan fiskal domestik yang belum jelas, termasuk penundaan rebalancing MSCI dan prospek peringkat Fitch yang negatif, memperburuk aliran keluar modal asing. Analis menilai bahwa ketidakpastian arah suku bunga global serta penguatan dolar AS turut menekan likuiditas pasar Indonesia.

Investor domestik juga harus memperhatikan perubahan regulasi Bursa Efek Indonesia yang mencakup peningkatan free float dan konsentrasi kepemilikan (HSC). Kebijakan ini dapat mengurangi daya tarik saham tertentu dan memicu penyesuaian portofolio pada tengah tahun.

Secara keseluruhan, kombinasi tekanan nilai tukar, faktor eksternal geopolitik, serta dinamika kebijakan domestik menciptakan lingkungan yang menantang bagi IHSG. Pelaku pasar disarankan untuk memantau pergerakan rupiah, data inflasi, serta perkembangan diplomatik di kawasan Timur Tengah sebagai indikator utama pergerakan indeks ke depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *