PSPK – 02 April 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis, 2 April 2026, mencatat penurunan sebesar 1,11% atau 31,33 poin, menutup pada level 7.105,19. Penurunan ini terjadi di tengah tekanan pasar saham Asia‑Pasifik dan dipicu oleh sentimen global yang masih dipengaruhi oleh perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran serta kebijakan moneter internasional.
Data Perdagangan Hari Ini
Menurut data Real Time Index (RTI), IHSG dibuka turun 31,32 poin ke 7.153,11. Pada pukul 09.31 WIB, indeks terpangkas hingga 1,11% dan berakhir pada 7.105,19. Selama sesi pertama, IHSG berfluktuasi antara level tertinggi 7.161,79 dan terendah 7.099,57. Sebanyak 352 saham tercatat merah, menekan indeks, sementara 199 saham menguat dan 172 saham tetap datar. Total frekuensi perdagangan mencapai 428.331 kali dengan volume 6,3 miliar lembar saham, menghasilkan nilai transaksi harian senilai Rp 3,2 triliun.
Sektor Saham yang Terpengaruh
Mayoritas sektor mengalami tekanan, kecuali sektor consumer siklikal yang berhasil mencatat kenaikan 1,06%. Rincian penurunan sektoral adalah sebagai berikut:
- Sektor energi turun 0,91%.
- Sektor basic materials merosot 2,07%.
- Sektor industri terpangkas 2,50%.
- Sektor consumer nonsiklikal melemah 0,31%.
- Sektor kesehatan turun 0,56%.
- Sektor keuangan menurun 0,26%.
- Sektor properti turun 0,44%.
- Sektor teknologi terperosok 1,50%.
- Sektor infrastruktur melemah 2,28%.
- Sektor transportasi turun 0,10%.
Saham CDIA (PT Ciputra Development Tbk) menjadi contoh saham yang paling terdampak, dengan penurunan 2,92% ke Rp 830 per lembar. Volume perdagangan CDIA tercatat 60.770 lembar dengan nilai transaksi harian Rp 5,1 miliar.
Faktor Global dan Domestik yang Mempengaruhi
Pasar internasional menunjukkan pola yang beragam. Di Amerika Serikat, indeks Dow Jones naik 0,5% sementara S&P 500 dan Nasdaq masing-masing naik 0,7% dan 1,2%. Di Eropa, indeks Euro Stoxx 50, FTSE 100, DAX, dan CAC 40 semua mencatat kenaikan di atas 1,8%. Namun, pasar Asia lainnya, termasuk Nikkei Jepang, Shanghai, Hang Seng, dan Straits Times, mengalami penurunan antara 0,24% hingga 1,85%.
Ketegangan geopolitik terkait konflik AS‑Iran menjadi sorotan utama. Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menyampaikan pidato yang diperkirakan akan memberikan arahan kebijakan terhadap konflik tersebut. Meskipun ada sinyal de‑eskalasi, ketidakpastian tetap tinggi karena status Selat Hormuz yang masih tertutup sebagian dan harga minyak mentah tetap berada di atas USD 100 per barel.
Di dalam negeri, data ekonomi menunjukkan kondisi campuran. Neraca perdagangan bulan Februari 2026 mencatat surplus USD 1,28 miliar, namun ekspor melambat menjadi 1,01% YoY sementara impor tumbuh tajam 10,85% YoY, menandakan permintaan domestik yang kuat namun tekanan eksternal. Inflasi Maret 2026 turun menjadi 3,48% YoY (0,41% MtM), di bawah ekspektasi, didorong oleh penurunan harga pangan dan pakaian serta efek basis pada sektor perumahan dan utilitas.
Proyeksi dan Rekomendasi Analis
Berbagai lembaga sekuritas memberikan pandangan yang beragam mengenai arah IHSG ke depan. BNI Sekuritas menilai IHSG berada pada zona support 7.025‑7.130 dengan resistance 7.200‑7.300. Mereka menekankan bahwa indeks masih berada di atas moving average 10‑hari, menandakan potensi pemulihan awal.
Kiwoom Sekuritas Indonesia mengidentifikasi pola double bottom yang dapat memicu bullish reversal, dengan target resistance pertama di 7.325 dan potensi lanjutan ke 7.450, bahkan 7.670‑7.740 jika momentum berlanjut. Mereka menyarankan strategi akumulasi dan average‑up bertahap dalam jangka pendek.
Phintraco Sekuritas menyoroti peluang rebound teknikal pada kisaran 7.200‑7.300, mengaitkannya dengan ekspektasi pidato Trump. Mereka merekomendasikan saham MNCN, HRTA, JPFA, BUVA, dan CDIA untuk dipertimbangkan.
MNC Sekuritas memberikan skenario beragam: downside ke level 6.745‑6.849 atau upside ke 7.450‑7.675. Rekomendasi saham mereka meliputi ARCI, BBYB, DEWA, dan INET.
BNI Sekuritas menyoroti saham-saham yang layak dipantau, antara lain PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS), PT Essa Industries Tbk (ESSA), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI). Kiwoom Sekuritas menambahkan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB), PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) sebagai pilihan potensial.
Sentimen Investor dan Outlook Jangka Pendek
Investor domestik tampak berhati‑hati, terlihat dari aksi jual berskala besar oleh dana asing sebesar Rp 163 miliar, dengan saham-saham perbankan seperti BMRI, BBRI, BBNI, serta sektor pertambangan ANTM dan ITMG menjadi yang paling terjual. Meskipun ada tekanan jual, likuiditas tetap tinggi dan volume perdagangan menunjukkan partisipasi aktif.
Dengan kombinasi faktor eksternal yang masih tidak pasti serta data fundamental domestik yang menunjukkan stabilitas, pasar IHSG diperkirakan akan berada dalam zona konsolidasi selama beberapa sesi ke depan. Pergerakan selanjutnya sangat dipengaruhi pada hasil pidato Trump serta perkembangan harga minyak dunia.
Secara keseluruhan, meskipun IHSG mencatat penurunan hari ini, fondasi ekonomi Indonesia yang kuat serta dukungan teknikal pada level kunci memberi ruang bagi kemungkinan rebound di sesi-sesi berikutnya. Investor disarankan untuk memantau perkembangan geopolitik, kebijakan moneter global, serta rekomendasi sektoral dari lembaga riset untuk mengambil keputusan yang terinformasi.












