PSPK – 10 Maret 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup sesi perdagangan Senin, 9 Maret 2026, dengan penurunan tajam sebesar 3,27 persen. Penurunan sebesar 248,318 poin ini menurunkan level indeks ke 7.337,369, menandai salah satu penurunan terbesar dalam beberapa bulan terakhir. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah menjadi Rp16.949 per dolar AS, turun 24 poin atau 0,14 persen pada sore hari.
Data Perdagangan dan Dinamika Saham
Selama hari perdagangan, BEI mencatat aktivitas yang cukup tinggi. Total frekuensi transaksi mencapai 2.469.344 kali dengan volume perdagangan sebesar 46,601 miliar lembar saham, setara dengan nilai transaksi Rp23,741 triliun. Dari total 817 saham yang diperdagangkan, hanya 68 saham yang mencatat kenaikan, 708 saham mengalami penurunan, dan 41 saham tetap stagnan.
Indeks LQ45, yang mencerminkan kinerja 45 saham blue‑chip, juga turut tertekan. LQ45 turun 25,471 poin atau 3,28 persen, berakhir di level 750,575.
Top Losers Mengguncang Portofolio
Beberapa saham menjadi beban utama bagi indeks, antara lain:
- Buana Lintas Lautan (BULL) turun 64 poin atau 14,41 persen menjadi Rp380.
- Perusahaan Gas Negara (PGAS) turun 320 poin atau 13,50 persen menjadi Rp2.050.
- GTS Internasional (GTSI) turun 26 poin atau 10,00 persen menjadi Rp234.
- Triniti Dinamik (TRUE) turun 17 poin atau 9,88 persen menjadi Rp155.
- Sentul City turun 11 poin atau 9,40 persen menjadi Rp106.
Saham-saham ini, bersama dengan penurunan pada sektor energi, transportasi, dan barang baku, memperparah tekanan pada indeks keseluruhan.
Pengaruh Global Terhadap Pasar Asia
Penurunan IHSG tidak terjadi dalam isolasi. Pasar saham Asia pada sore yang sama menunjukkan tren menurun:
- Indeks Nikkei 225 Jepang turun 2.892,101 poin atau 5,20 persen ke 52.728,699.
- Indeks Hang Seng Hong Kong turun 348,828 poin atau 1,35 persen ke 25.408,460.
- Indeks SSE Composite China turun 27,589 poin atau 0,67 persen ke 4.096,600.
- Indeks Straits Times Singapura turun 95,350 poin atau 1,97 persen ke 4.752,899.
Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta kebijakan moneter global yang ketat menjadi faktor utama yang menekan sentimen investor di seluruh wilayah.
Sektor‑Sektor Terdampak
Analisis sektoral menunjukkan bahwa sektor siklikal menjadi pendorong utama penurunan IHSG, mencatat penurunan sebesar 5 persen. Sektor transportasi turun 4,93 persen, sementara sektor barang baku mengalami penurunan 4,42 persen. Energi dan industri masing‑masing menurun 4,4 persen dan 4,36 persen.
Penurunan sektor‑sektor ini mencerminkan kekhawatiran atas permintaan domestik yang melambat serta tekanan biaya produksi yang semakin tinggi, terutama dalam konteks nilai tukar rupiah yang melemah.
Implikasi Bagi Investor
Bagi investor ritel, penurunan tajam ini membuka peluang beli kembali saham-saham berkualitas dengan harga yang lebih murah, namun risiko volatilitas tetap tinggi. Investor institusional cenderung menyesuaikan alokasi portofolio ke aset yang lebih defensif atau beralih ke instrumen uang pasar yang lebih aman.
Selain itu, pelemahan rupiah meningkatkan beban utang luar negeri bagi perusahaan yang memiliki pinjaman denominasi dolar AS, sehingga dapat memperlebar margin kerugian bila nilai tukar tidak stabil.
Prospek Kedepan
Para analis pasar menilai bahwa volatilitas akan tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan, mengingat agenda penting seperti rapat kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve) dan perkembangan situasi politik di beberapa negara produsen energi utama. Jika tekanan inflasi global dapat mereda dan kebijakan moneter melonggarkan, pasar Indonesia berpotensi melakukan rebound.
Namun, apabila nilai tukar rupiah terus terdepresiasi di atas Rp17.000 per dolar AS, risiko arus keluar modal dapat semakin intens, menambah beban pada indeks saham dan menurunkan daya beli konsumen domestik.
Secara keseluruhan, penurunan IHSG sebesar 3,27 persen dan pelemahan rupiah mencerminkan tantangan makroekonomi yang signififikannya belum selesai. Investor disarankan untuk melakukan diversifikasi, memperhatikan fundamental perusahaan, serta mengikuti perkembangan kebijakan moneter global untuk mengelola risiko secara efektif.












