PSPK – 29 Juni 2026 | Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, mengumumkan langkah signifikan dalam pengelolaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dengan janji untuk menutup ratusan perusahaan BUMN. Dalam sebuah acara yang diadakan pada hari Minggu, Prabowo menyampaikan bahwa dari lebih seribu perusahaan negara yang ada, sudah lebih dari 200 di antaranya ditutup, dan ke depan hanya akan ada sekitar 250 perusahaan yang dipertahankan. Pernyataan ini disampaikan saat menutup Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI).
“Dari seribu lebih BUMN, sekarang kita sudah tutup lebih dari 200. Nantinya kita akan bikin tinggal sekitar 300,” ungkap Prabowo. Dia juga menegaskan pentingnya melakukan perampingan pada BUMN untuk mengurangi beban biaya operasional yang tinggi, sehingga perusahaan-perusahaan ini bisa lebih efisien dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada masyarakat.
Prabowo menargetkan bahwa transformasi ini akan selesai dalam dua tahun ke depan, sehingga semua BUMN dapat memiliki tata kelola yang lebih baik. Hal ini sejalan dengan pernyataan Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara sekaligus Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN, yang menegaskan bahwa proses perampingan akan dilakukan tanpa pemutusan hubungan kerja (PHK). Menurut Dony, saat ini Danantara sedang melakukan streamlining terhadap 1.077 perusahaan BUMN yang ditargetkan akan dirampingkan menjadi antara 200 hingga 300 perusahaan pada tahun 2026.
Pentingnya Konsolidasi BUMN
Dony mengungkapkan bahwa sekitar 52 persen BUMN masih merugi dengan total kerugian mencapai Rp20 triliun. Oleh karena itu, konsolidasi menjadi langkah yang harus diambil untuk meningkatkan efisiensi. “Kita hitung, biaya tenaga kerja setahun cuma Rp2 sampai Rp3 triliun. Jika kita mempertahankan seluruh karyawan, kita masih bisa menghemat hingga Rp47 triliun,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa semua karyawan yang terkena dampak perampingan akan tetap dipertahankan dan akan menjadi bagian dari perusahaan-perusahaan hasil konsolidasi.
Dony juga menjelaskan bahwa program konsolidasi BUMN dapat menghasilkan penghematan langsung hingga sekitar Rp50 triliun setiap tahun. Penghematan ini berasal dari penghapusan transaksi berlapis antara perusahaan induk, anak usaha, hingga perusahaan di bawahnya yang selama ini dinilai menimbulkan inefisiensi. Dalam konteks ini, penggabungan sejumlah subholding di lingkungan Pertamina telah berhasil menghasilkan efisiensi yang signifikan, dengan penghematan sekitar 600 hingga 700 juta dolar AS.
Menghadapi Tantangan dan Harapan
Langkah-langkah yang diambil oleh Prabowo dan Dony dalam merampingkan BUMN ini mendapat tanggapan beragam dari masyarakat dan para stakeholders. Di satu sisi, banyak yang mendukung upaya untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi pemborosan anggaran negara. Namun di sisi lain, ada kekhawatiran terkait nasib karyawan yang terancam kehilangan pekerjaan. Namun, dengan pernyataan tegas dari Dony bahwa seluruh tenaga kerja akan dipertahankan, diharapkan dapat mengurangi keresahan tersebut.
Prabowo Janji Tutup Ratusan Perusahaan BUMN, Nasib Karyawan Diklaim Aman menjadi sorotan utama dalam pembahasan ini. Dengan komitmen untuk tidak melakukan PHK dan menjaga karyawan, pemerintah berharap langkah ini dapat membawa perubahan positif bagi perekonomian nasional serta menciptakan perusahaan-perusahaan yang lebih sehat dan efisien.
Secara keseluruhan, langkah konsolidasi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia serta meningkatkan daya saing BUMN di kancah global. Dengan transformasi yang direncanakan, diharapkan BUMN dapat berfungsi lebih optimal dan memenuhi harapan masyarakat.












