PSPK – 04 April 2026 | Pada akhir Maret 2026, sebuah zebra cross yang dihiasi gambar karakter permainan Pac‑Man di Jalan Soepomo, Pancoran‑Tebet, menjadi sorotan media sosial setelah diabadikan oleh warga dan pegiat seni jalanan. Gambar berwarna cerah yang menutupi balok putih tradisional berhasil menarik ribuan “likes” serta menjadi bahan perbincangan tentang keamanan lalu lintas dan kreativitas publik.
Reaksi Dinas Bina Marga DKI
Menanggapi fenomena tersebut, Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta, Siti Dinar Wenny, menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan peninjauan lapangan secara menyeluruh. “Apabila lokasi dan kondisinya dinilai memenuhi ketentuan, tidak menutup kemungkinan untuk diakomodasi atau disesuaikan sebagai bagian dari penataan resmi,” ungkapnya dalam wawancara dengan Kompas.com pada Jumat, 3 April 2026.
Wenny menambahkan bahwa penataan ulang tidak bersifat spontan; setiap perubahan harus berlandaskan regulasi teknis, standar keselamatan, serta hasil kajian dari instansi terkait. Hal ini berarti gambar Pac‑Man tidak otomatis dipertahankan, melainkan akan dievaluasi apakah tetap layak sebagai bagian dari fasilitas penyeberangan.
Alasan Utama Penataan Ulang
Berikut beberapa pertimbangan yang menjadi dasar Dinas Bina Marga untuk menata ulang zebra cross tersebut:
- Kesesuaian dengan standar keselamatan: Balok putih yang dilapisi cat semprot berwarna dapat mengurangi kontras visual, terutama pada kondisi hujan atau malam hari. Standar nasional mengharuskan permukaan zebra cross memiliki reflektifitas tinggi.
- Kekokohan material: Cat semprot yang digunakan pada gambar Pac‑Man diperkirakan hanya bertahan satu bulan. Setelah mengelupas, tanda tersebut dapat menimbulkan kebingungan bagi pengendara.
- Ketertiban ruang publik: Penambahan elemen grafis harus mempertimbangkan kepadatan lalu lintas, lebar jalur, serta jarak pandang pengendara.
- Pengelolaan anggaran: Perbaikan berulang karena degradasi cepat akan menghabiskan dana yang dapat dialokasikan untuk proyek infrastruktur lain.
Dalam konteks ini, Dinas Bina Marga berencana mengganti zebra cross bergambar dengan zebra cross konvensional yang dilengkapi reflektor, sekaligus meninjau kemungkinan integrasi elemen seni yang memenuhi standar teknis.
Kolaborasi dengan Masyarakat
Meski menekankan pentingnya standar, Wenny menyatakan keterbukaan Dinas terhadap kolaborasi kreatif dengan warga. “Dinas Bina Marga terbuka terhadap kolaborasi dengan masyarakat dalam upaya meningkatkan keselamatan pengguna jalan, sepanjang tetap mengacu pada regulasi serta hasil kajian teknis dari instansi terkait,” tegasnya.
Penggagas gambar Pac‑Man, seorang seniman jalanan bernama Ijoel, menjelaskan motivasinya sebagai kritik terhadap lambatnya respons pemerintah dalam menyediakan fasilitas penyeberangan. “Kita kalau warga pakai piloks putih kayaknya biasa saja. Jadi ini lebih ke nyolek ke pemerintah saja. Kayak kita saja bisa, masa pemerintah enggak,” ujarnya kepada wartawan.
Langkah Selanjutnya
Menurut Kepala Suku Dinas Bina Marga Jakarta Selatan, Rifki Rismal, proses penataan ulang akan dimulai setelah tim teknis melakukan survei kondisi fisik jalan. Jika ditemukan bahwa gambar Pac‑Man mengganggu visibilitas atau tidak memenuhi standar, zebra cross tersebut akan dihapus dan diganti dengan tanda konvensional. Pekerjaan diperkirakan selesai dalam dua minggu ke depan, bertepatan dengan jadwal perbaikan aspal di jalan Soepomo.
Selain itu, Dinas berencana meluncurkan program “Zebra Cross Aman 2026” yang mencakup pembuatan 30 titik penyeberangan baru dengan material tahan lama dan lampu LED. Program ini diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan pejalan kaki di wilayah Jakarta Selatan sebesar 15 persen pada akhir tahun.
Dengan menggabungkan kebutuhan teknis dan aspirasi kreatif warga, Dinas Bina Marga DKI Jakarta berharap dapat menemukan keseimbangan antara estetika jalan dan keselamatan publik. Keputusan akhir mengenai keberlanjutan gambar Pac‑Man akan diumumkan pada rapat koordinasi pekan depan.












