PSPK – 20 April 2026 | Setelah sekian lama jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz ditutup karena ketegangan militer, pada 17 April 2026 Iran secara resmi mengumumkan pembukaan penuh selama gencatan senjata Israel‑Lebanon. Keputusan ini menimbulkan harapan sementara bagi pasar energi, namun para analis menegaskan bahwa pemulihan aliran minyak global tetap memerlukan waktu berbulan‑bulan hingga bertahun‑tahun.
Latar Belakang Penutupan dan Dampak Ekonomi
Selat Hormuz menyumbang sekitar satu per lima pasokan minyak dan gas dunia. Sejak kampanye pengeboman gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari, lalu lintas kapal menurun drastis. Sekitar 13 juta barel minyak per hari dan 300 juta meter kubik LNG terperangkap di Teluk, memaksa penutupan ladang, kilang, dan fasilitas LNG. Akibatnya, ekonomi negara‑negara importir di Asia dan Eropa mengalami tekanan harga yang signifikan.
Rencana Pembukaan Seluruh Kapal Komersial
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa semua kapal komersial dapat melintasi Selat Hormuz selama periode gencatan senjata. Koordinasi dilakukan melalui otoritas pelabuhan Iran, dan kapal‑kapal yang masih berada di Teluk Persia diprediksi akan menjadi gelombang pertama keluar. Diperkirakan ada sekitar 260 tanker, memuat 170 juta barel minyak dan 1,2 juta ton LNG, yang akan bergerak menuju pasar Asia, terutama India, China, Jepang, dan Korea Selatan.
Kendala Pemulihan Aliran Minyak Global
Walaupun jalur terbuka, proses normalisasi tidak instan. Satu perjalanan pulang‑pergi dari Timur Tengah ke India memerlukan kira‑kira 20 hari, sementara ke China atau Jepang dapat memakan waktu hingga dua bulan. Analisis Reuters menilai dibutuhkan minimal 8‑12 minggu untuk menyeimbangkan kembali armada tanker global, namun faktor‑faktor lain seperti ketersediaan asuransi, tarif pengiriman, dan keberanian operator kapal tetap menjadi variabel kritis.
- Logistik pelabuhan yang belum kembali beroperasi penuh.
- Kebutuhan asuransi tinggi karena risiko serangan.
- Fluktuasi tarif pengiriman akibat ketidakpastian politik.
- Penyesuaian produksi di perusahaan minyak seperti Saudi Aramco dan ADNOC.
Kondisi Kapal Tanker Pertamina
Dua tanker milik Pertamina, Pride dan Gamsunoro, masih berada di lepas pantai Al Jubail (Arab Saudi) dan Dubai (Uni Emirat Arab). Vega Pita, Corporate Secretary Pertamina International Shipping, mengungkapkan bahwa perusahaan telah menyiapkan passage plan lengkap, termasuk rute, identifikasi risiko, navigasi elektronik, dan rencana kontinjensi. Koordinasi intensif juga dilakukan dengan Kementerian Luar Negeri RI dan otoritas Iran untuk memastikan izin dan keamanan kapal.
Reaksi Pasar dan Proyeksi Ke Depan
Setelah pembukaan sementara Selat Hormuz, Wall Street mencatat kenaikan indeks energi dan mencetak rekor tertinggi pada hari berikutnya. Namun, para pedagang energi menekankan bahwa lonjakan tersebut bersifat reaktif dan tidak mencerminkan pemulihan struktural. Jika konflik berlanjut atau Iran menutup kembali selat dalam kurang dari 24 jam—sebagaimana tercatat pada hari yang sama—pasar dapat kembali mengalami volatilitas tajam.
Kesimpulannya, meski Selat Hormuz kembali terbuka secara resmi, tantangan logistik, keamanan, dan kebijakan internasional masih menghalangi aliran minyak dunia kembali ke level pra‑konflik. Pengawasan terus menerus, dukungan diplomatik antara Washington dan Tehran, serta stabilitas regional menjadi faktor kunci untuk mempercepat proses pemulihan.












