PSPK – 09 April 2026 | Jenderal Mohammad Javad Zarif, Menteri Luar Negeri Iran, menyampaikan keprihatinan mendalam atas kerusakan masif yang menimpa lebih dari 600 institusi pendidikan di seluruh negeri akibat serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel. Menurut laporan resmi pemerintah Tehran, serangan udara tersebut menargetkan tidak hanya fasilitas militer, tetapi juga sekolah, kampus, serta situs budaya penting, menimbulkan krisis pendidikan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kerusakan pada Infrastruktur Pendidikan
Data yang dihimpun oleh Kementerian Pendidikan Iran mencatat bahwa lebih dari enam ratus sekolah, mulai dari tingkat dasar hingga menengah, mengalami kerusakan struktural serius. Sebagian besar bangunan hancur total, sementara yang lain hanya dapat beroperasi secara terbatas karena atap yang roboh, jendela pecah, dan ruang kelas yang berdebu. Sementara itu, lembaga-lembaga pendidikan tinggi tak luput dari serangan; kampus terkemuka seperti Sharif University of Technology mengalami ledakan yang menghancurkan laboratorium dan ruang kelas.
Target Kampus dan Upaya Bertahan Dosen
Rektor Sharif University of Technology, Prof. Masoud Tajrishi, menegaskan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari upaya terkoordinasi untuk menahan kemajuan teknologi Iran, khususnya dalam bidang kecerdasan buatan (AI). “Kami yakin bahwa AS dan Israel sengaja menargetkan fasilitas penelitian kami karena takut Iran menguasai teknologi AI yang strategis,” ujarnya dalam pernyataan resmi. Meski bangunan kampus berada dalam reruntuhan, sejumlah dosen tetap melanjutkan perkuliahan di tenda darurat. Salah satu profesor matematika, Dr. Reza Gholami, melaporkan bahwa ia masih mengajar di antara puing-puing, mengingat pentingnya menjaga kontinuitas belajar bagi mahasiswa.
Reaksi Pemerintah Iran dan Menlu
Menlu Zarif menuduh Amerika Serikat dan Israel melakukan kampanye intimidasi yang melanggar hukum internasional. Ia menegaskan bahwa serangan ke institusi pendidikan merupakan pelanggaran berat terhadap Konvensi Hak Anak dan prinsip-prinsip perlindungan sipil dalam konflik bersenjata. “Kami menuntut agar dunia internasional mengecam tindakan barbar ini dan menuntut pertanggungjawaban para pelaku,” tegasnya.
Pemerintah Iran telah mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu, sebuah langkah yang diharapkan dapat menurunkan ketegangan dan memungkinkan penilaian kerusakan lebih lanjut. Selama periode ini, tim penyelamat dan insinyur sipil bekerja siang malam untuk menilai kondisi struktural bangunan dan merencanakan rekonstruksi darurat.
Implikasi Regional dan Humanitarian
Kerusakan pada lebih dari 600 sekolah berdampak langsung pada jutaan anak-anak yang kini kehilangan tempat belajar yang aman. Organisasi kemanusiaan lokal dan internasional melaporkan kebutuhan mendesak akan perlengkapan pendidikan darurat, termasuk buku, alat tulis, dan ruang kelas sementara. Selain itu, kehilangan akses ke pendidikan dapat memperburuk ketidakstabilan sosial di wilayah yang sudah tegang.
Serangan yang menargetkan situs budaya, termasuk museum dan situs arkeologi, menambah beban psikologis pada masyarakat Iran. Banyak warga menganggap penghancuran warisan budaya sebagai upaya menghapus identitas nasional.
Dengan gencatan senjata yang sedang berlangsung, Iran berupaya menegosiasikan bantuan internasional untuk rekonstruksi pendidikan. Namun, hubungan diplomatik yang tegang dengan Barat memperumit proses tersebut.
Secara keseluruhan, serangan gabungan AS-Israel telah menimbulkan dampak yang meluas, tidak hanya pada infrastruktur militer, tetapi juga pada masa depan generasi muda Iran. Pemerintah Tehran bertekad untuk memulihkan kembali sistem pendidikan, sambil menuntut keadilan di panggung internasional.










