PSPK – 04 April 2026 | Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, pada Jumat 3 April menuduh pedagang minyak melakukan penimbunan dan penyelundupan bahan bakar yang menyebabkan kelangkaan dan lonjakan harga di dalam negeri. Menurutnya, praktik tersebut mengakibatkan kerugian bagi pemerintah sekitar 50 miliar baht atau setara US$1,4 miliar.
Charnvirakul menjelaskan bahwa otoritas telah menemukan bukti penimbunan di darat maupun laut. Beberapa kapal pengangkut bahan bakar sengaja menunda kedatangan muatan, memungkinkan penjual menunggu kenaikan harga eceran. Ada pula pengalihan barang ke negara tetangga untuk diselundupkan.
Data yang disampaikan Menteri Kehakiman Rutthaphon Naowarat mengindikasikan lebih dari 57 juta liter bahan bakar hilang selama pengiriman laut di wilayah selatan Thailand. Kasus ini kini sedang diselidiki oleh Departemen Investigasi Khusus sebagai penyelidikan khusus.
Kelangkaan bahan bakar muncul bersamaan dengan protes publik yang menuntut penurunan harga. Harga bensin tanpa timbal telah mencapai rekor tertinggi 57,51 baht per liter (US$1,76), sementara harga solar berada di 47,74 baht per liter (US$1,46). Kenaikan ini dipicu oleh gangguan pasokan minyak global setelah konflik di Timur Tengah pada akhir Februari, yang berdampak pada pasar energi Asia Tenggara.
Berikut ringkasan harga bahan bakar di Thailand serta beberapa negara tetangga:
| Produk | Thailand (baht per liter) | Vietnam (dong per liter) |
|---|---|---|
| Bensin tanpa timbal | 57,51 | 25.970 |
| Solar | 47,74 | 46.200 |
Pemerintah Thailand berjanji akan memperketat pengawasan rantai pasokan bahan bakar serta menindak tegas pelaku penimbunan. Sementara itu, negara tetangga Vietnam mengambil langkah stabilisasi dengan menggunakan dana darurat dan menghapus pajak lingkungan untuk menurunkan tekanan harga.










