PSPK – 19 April 2026 | Paus Leo XIV mendarat di bandara Internasional Quatro de Fevereiro, Luanda, pada Sabtu 18 April, menandai kunjungan ketiganya ke Afrika. Kedatangan sang pemimpin Gereja Katolik ini disambut sorak sorai warga sekaligus mengundang sorotan karena perseteruan verbal dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Agenda Paus di Angola
Setelah lepas landas dari Kamerun, di mana ia mengakhiri kunjungan dengan misa terbuka bagi ratusan ribu umat, Paus Leo XIV melanjutkan perjalanan ke Angola menggunakan mobil kepausannya. Ia bertemu Presiden Joâo Lourenço di Istana Presiden, lalu melakukan tur singkat di ibu kota, termasuk kunjungan ke gereja-gereja lokal.
Misa Besar di Kilamba dan Kunjungan ke Muxima
Pada Minggu, Paus merayakan misa terbuka di kompleks Kilamba, pinggiran Luanda, yang diperkirakan dihadiri puluhan ribu orang. Sore harinya, ia beralih ke helikopter untuk menjangkau desa Muxima, sekitar 130 km tenggara ibukota, tempat berdirinya gereja abad ke-16 yang menjadi destinasi ziarah penting di kawasan selatan Afrika.
Rencana Kunjungan Selanjutnya
Pada 20 April, Paus dijadwalkan menempuh perjalanan lebih dari 800 km ke Saurimo untuk mengunjungi panti jompo setempat dan melaksanakan misa lagi sebelum kembali ke Roma keesokan harinya.
Kontroversi dengan Donald Trump
Selama penerbangan menuju Angola, Paus menyatakan penyesalannya bahwa pernyataan yang diucapkannya sebelumnya di Kamerun—terkait “para tiran yang merusak dunia”—dianggap sebagai respons terhadap kritik Trump. Ia menegaskan bahwa komentar tersebut telah disusun jauh sebelum serangkaian pernyataan Presiden Amerika Serikat tentang dirinya.
Trump pada 12 April menegaskan bahwa ia bukan “penggemar berat Paus Leo XIV” dan menuduh Paus “bermain-main dengan negara Iran yang mengincar senjata nuklir”. Ia juga memposting di platform media sosialnya, Truth Social, bahwa Paus “lemah dalam hal kejahatan dan buruk untuk kebijakan luar negeri”.
Situasi Sosial‑Ekonomi Angola
Negara Afrika barat ini kaya akan cadangan minyak, namun sekitar sepertiga dari 36,6 juta penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan internasional ($2,15 per hari). Ketergantungan ekonomi pada minyak membuatnya rentan terhadap fluktuasi harga, sementara korupsi meluas di sektor publik.
- Populasi: 36,6 juta jiwa
- Persentase penduduk di bawah kemiskinan: ~33%
- Persentase Katolik: ~44%
- Ketergantungan pada ekspor minyak: >90% pendapatan negara
Paus Leo XIV menekankan pentingnya “keberanian untuk mengubah kebiasaan dan struktur” dalam khotbahnya di Kamerun, mengingat rezim otoriter yang telah memerintah selama lebih dari empat dekade.
Harapan untuk Kaum Muda
Dengan menjadi Paus ketiga yang menginjakkan kaki di Angola—setelah Yohanes Paulus II (1992) dan Benediktus XVI (2009)—Leo XIV berharap pesan damai dan keadilan sosialnya dapat menembus tantangan ekonomi serta politik yang dihadapi negara ini.










