PSPK – 19 April 2026 | Jakarta – Kolektif hip‑hop asal Tangerang, PORIS, kembali berada di sorotan publik setelah video promosi bersama layanan streaming Spotify beredar luas di media sosial. Netizen menuduh kolaborasi tersebut kontradiktif karena Spotify dikaitkan dengan dukungan finansial terhadap operasi militer Israel.
Salah satu anggota PORIS, yang dikenal dengan nama panggung toxicdev!, menanggapi kritik tersebut melalui unggahan di X pada 18 April. Ia meminta maaf kepada siapa pun yang merasa kecewa atau dirugikan, sekaligus mengakui kurangnya kesadaran dalam menilai brand yang terlibat dalam aksi Zionis.
Toxicdev! menulis, “Atas ketidakawarean aku dalam memilah brand yang mendukung tindakan Zionis, saya minta maaf. Terima kasih kepada teman‑teman yang mengingatkan saya, semoga ini menjadi pelajaran untuk lebih selektif ke depannya.”
Anggota lain, Obyrins, juga mengakui keterbatasan wawasannya dalam isu Palestina‑Israel, menegaskan bahwa tidak ada niat mendukung Zionisme atau Israel.
Kolaborasi ini dimulai ketika PORIS merilis single berjudul “AKU GAS!” di Spotify, sekaligus dipilih sebagai perwakilan program RADAR Indonesia 2026, inisiatif global Spotify untuk mengangkat musisi baru. Video promosi yang sempat diposting di TikTok kemudian dihapus dari Instagram resmi grup, namun masih dapat dilihat di akun TikTok Spotify Indonesia.
Netizen menilai tindakan tersebut munafik karena salah satu anggota PORIS sering mengusung semangat hardcore punk, sebuah genre yang secara historis menentang penindasan. Kritik keras muncul di platform X, dengan beberapa pengguna menyoroti hubungan Spotify dengan perusahaan pertahanan Eropa yang menyediakan drone untuk militer Israel.
Investasi Spotify sebesar 600 juta euro ke perusahaan teknologi Helsing, yang mengembangkan sistem AI untuk pertahanan, menambah kekhawatiran akan dukungan tidak langsung terhadap konflik Palestina. Beberapa grup punk Indonesia, seperti Seringai, telah menarik musik mereka dari Spotify sebagai bentuk protes.
Sejauh ini, PORIS berjanji akan lebih teliti dalam memilih kolaborasi di masa depan, sambil terus menyuarakan solidaritas dengan Palestina melalui tagar #FREEPALESTINE.










