PSPK – 04 April 2026 | Garut, Jawa Barat – Sebuah tragedi menggemparkan komunitas nelayan di Kabupaten Garut berakhir setelah Tim Search and Rescue (SAR) berhasil menemukan jasad seorang nelayan berusia 25 tahun yang hilang selama satu hari. Korban, Galih, warga Desa Sancang, Kecamatan Cibalong, ditemukan tidak jauh dari lokasi peristiwa di perairan Cipunaga pada Kamis, 2 April 2024.
Kepala Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Garut Iptu, Aep Saprudin, mengonfirmasi bahwa Galih telah meninggal dunia. “Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia,” tegasnya dalam keterangan resmi yang disampaikan kepada media setempat.
Rangkaian Kejadian
Menurut keterangan saksi dan hasil penyelidikan awal, Galih berangkat melaut pada Rabu, 1 April, menggunakan kapal nelayan bernama AAL. Ia berencana menangkap ikan di perairan sekitar Desa Sancang, wilayah yang dikenal memiliki arus kuat dan ombak yang tidak menentu. Saat melintasi zona tersebut, kapal Galih diduga mengalami benturan keras dengan gelombang tinggi, yang menyebabkan kapal terbalik. Galih tidak sempat kembali ke atas kapal dan diperkirakan terjatuh ke laut.
Setelah kapal mengalami kecelakaan, rekan-rekan nelayan setempat langsung melakukan pencarian di sekitar pantai dan perairan. Namun, upaya mereka tidak membuahkan hasil, sehingga laporan resmi tentang hilangnya Galih diajukan ke Satpolairud Polres Garut pada sore harinya.
Operasi Pencarian Tim SAR
Menanggapi laporan tersebut, Tim SAR Gabungan dikerahkan dengan peralatan lengkap, termasuk perahu motor, drone pencari, dan alat pendeteksi bawah air. Tim melakukan penyisiran menyeluruh, mulai dari pantai hingga ke tengah laut, mengikuti jejak yang kemungkinan ditinggalkan oleh korban.
Setelah berjam‑jam pencarian intensif, tim berhasil menemukan jasad Galih pada pagi hari Kamis, 2 April, tepat di zona yang sama dengan lokasi kecelakaan. Jasad tersebut kemudian dievakuasi dengan hati‑hati menggunakan perahu SAR dan dibawa ke rumah duka setempat untuk diserahkan kepada keluarga.
Reaksi Keluarga dan Komunitas
Keluarga Galih, yang masih berada di Desa Sancang, menyatakan duka yang mendalam. “Kami sangat terpukul. Galih adalah tulang punggung keluarga. Kami berharap ada pembelajaran agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar salah satu anggota keluarga dalam pernyataan singkat.
Masyarakat nelayan setempat juga mengungkapkan keprihatinan atas risiko tinggi yang mereka hadapi setiap kali melaut. “Kondisi laut di sini memang menantang. Kami berharap pihak berwenang dapat meningkatkan fasilitas keselamatan, seperti peringatan dini dan penyediaan peralatan keselamatan yang memadai,” kata seorang nelayan senior.
Upaya Pencegahan dan Tindakan Lanjutan
- Peninjauan kembali jalur pelayaran yang rawan di perairan Cipunaga.
- Peningkatan pelatihan keselamatan laut bagi nelayan, termasuk penggunaan jaket pelampung dan peralatan komunikasi.
- Pemasangan sistem peringatan dini untuk gelombang tinggi dan cuaca buruk.
- Koordinasi lebih erat antara Satpolairud, Tim SAR, dan komunitas nelayan dalam merespon kejadian darurat.
Pihak Satpolairud menyatakan bahwa proses penyelidikan akan terus berlanjut untuk memastikan penyebab pasti kecelakaan, serta menilai apakah faktor cuaca atau kondisi teknis kapal menjadi pemicu utama.
Kasus ini menambah daftar tragedi laut yang menimpa para pekerja maritim di Indonesia, menegaskan pentingnya investasi dalam infrastruktur keselamatan maritim dan edukasi berkelanjutan bagi para pelaut.
Dengan selesainya operasi pencarian dan temuan jasad Galih, keluarga kini dapat melanjutkan proses pemakaman, sementara komunitas nelayan berharap tragedi ini menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan standar keselamatan di laut.












