PSPK – 17 April 2026 | Harga minyak dunia menurun pada perdagangan awal Jumat setelah muncul optimisme bahwa konflik di Timur Tengah dapat segera mereda. Gencatan senjata sepuluh hari antara Lebanon dan Israel serta pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahwa Washington dan Tehran mungkin mengadakan pertemuan pada akhir pekan menjadi faktor utama penurunan tersebut.
Beberapa poin penting yang memengaruhi pergerakan harga:
- Gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel memberi sinyal potensi de‑eskalasi di kawasan.
- Pernyataan Trump bahwa Iran bersedia tidak mengembangkan senjata nuklir selama lebih dari dua dekade meningkatkan harapan akan tercapainya kesepakatan diplomatik.
- Penutupan Selat Hormuz selama tujuh minggu terakhir telah menahan sekitar 13 juta barel per hari, menekan pasokan global.
Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia, ditutup sejak awal Maret setelah konflik antara Iran dan sekutunya. Penutupan ini sebelumnya mendorong harga minyak naik hampir 50 persen pada bulan Maret, mencapai rekor tertinggi.
Negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran kini beralih dari upaya mencapai kesepakatan damai komprehensif ke pencarian memorandum sementara yang dapat mencegah kembalinya konflik. Dua sumber Iran mengonfirmasi hal ini kepada Reuters pada hari Kamis.
Meskipun harga minyak kembali turun di bawah level US$100 per barel, ia tetap berada dalam kisaran US$90 selama seminggu terakhir, mencerminkan ketidakpastian yang masih melekat pada situasi geopolitik.
Jika pembicaraan berhasil menghasilkan kesepakatan yang mengakhiri blokade di Selat Hormuz, pasokan minyak global dapat kembali mengalir normal, yang berpotensi menurunkan harga lebih lanjut. Namun, ketegangan di Lebanon dan potensi eskalasi baru tetap menjadi risiko yang harus dipantau.












