PSPK – 23 April 2026 | Film dokumenter Pesta Babi menyoroti hubungan erat antara proyek pembangunan besar dan praktik kolonialisme yang kini terasa di Papua serta mulai muncul di Flores. Acara tonton bersama di Rumah Baca Aksara, Ruteng, 19 April 2026, mempertemukan aktivis, mahasiswa, dan tokoh gereja untuk mengkaji dampak nyata kebijakan negara terhadap masyarakat adat.
Film “Pesta Babi” Mengungkap Dinamika Kolonialisme Modern
Disutradarai oleh Dandhy Laksono dan antropolog Cypri Jehan Paju Dale, dokumenter ini menggabungkan rekaman lapangan dengan investigasi data. Ia menelusuri proyek bioenergi—biodiesel sawit dan bioetanol tebu—yang menelan sekitar 2,5 juta hektar hutan dan lahan adat di Papua selatan. Lebih dari 2.000 unit alat berat serta ribuan prajurit dikerahkan untuk menjamin kelancaran proyek, menjadikan operasi militer bagian integral dari proses perampasan.
Pola Pengusiran dan Penandaan Lahan di Papua
Para pembuat film menekankan bahwa penandaan konsesi, penerbitan izin, dan penerapan konsep “Free, Prior and Informed Consent” (FPIC) sering kali berujung pada pemindahan paksa penduduk. Tanah yang dulu menjadi sumber pangan tradisional—seperti sagu dan ubi—diubah menjadi zona industri, mengikis kearifan lokal dan memicu konflik bersenjata yang masih berlangsung.
Relevansi terhadap Flores: Pola yang Sama, Bahasa yang Sama
Setelah menonton film, peserta diskusi menyoroti kemiripan pola di Flores, khususnya proyek energi panas bumi di Manggarai dan rencana pengembangan pariwisata berskala besar. Seperti di Papua, proyek‑proyek tersebut dibarengi dengan kehadiran aparat keamanan, sehingga warga adat sering digambarkan sebagai “penolak pembangunan” meski yang dipertanyakan adalah cara pelaksanaannya.
- Proyek energi panas bumi Poco Leok menimbulkan benturan antara perusahaan, pemerintah daerah, dan masyarakat setempat.
- Penggunaan regulasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua menjadi contoh hukum yang dipakai untuk mengesampingkan hak adat, dan kini dipertimbangkan untuk proyek serupa di Flores.
Gereja dan Dilema Moral
Diskusi juga mengangkat peran Gereja Katolik, yang dalam beberapa kasus memberikan dukungan kepada proyek pembangunan, menimbulkan pertentangan internal antara kepemimpinan hierarkis dan umat yang terdampak. Dalam konteks Flores, hal ini mencerminkan risiko gereja menjadi pelengkap kepentingan korporasi jika tidak menjaga netralitas pastoral.
Suara Mahasiswa dan Aktivis
Rafli Mangkang, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, menegaskan pentingnya menghapus mitos “tanah kosong” yang sering dijadikan pintu masuk perampasan. Jefry Teping menambahkan bahwa kondisi politik di Manggarai mencerminkan pola yang sama: pertanyaan utama bukan seberapa besar investasi, melainkan siapa yang harus mengorbankan tanah dan kehidupannya.
Para peserta sepakat bahwa menonton Pesta Babi bukan sekadar melihat tragedi jauh di Papua, melainkan sebagai peringatan dini bagi Flores. Mengidentifikasi pola kolonialisme pembangunan sebelum menjadi norma dapat mencegah konflik yang lebih luas dan melindungi hak serta identitas masyarakat adat.










