PSPK – 01 April 2026 | Pemerintah Indonesia melakukan penyesuaian pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan mengubah skema distribusi menjadi lima hari dalam seminggu. Penyesuaian ini dimaksudkan untuk meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran tanpa mengorbankan tujuan utama program, yaitu memperbaiki gizi anak sekolah.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa optimalisasi program MBG menjadi lima hari dapat menghemat anggaran hingga sekitar Rp20 triliun. Penghematan tersebut diharapkan dapat dialokasikan kembali untuk program‑program prioritas lain dalam rangka memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Namun, kebijakan baru ini tidak berlaku secara mutlak. Ada beberapa pengecualian, antara lain untuk asrama pendidikan, wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), serta daerah dengan tingkat stunting yang tinggi. Pada wilayah‑wilayah tersebut, distribusi makanan tetap dilakukan sesuai kebutuhan khusus.
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menjelaskan detail operasionalnya. Untuk anak sekolah, makanan segar seperti sayur, buah, dan protein akan dibagikan selama lima hari kerja. Sementara di daerah 3T, makanan kering yang lebih mudah disimpan—seperti susu bubuk, roti, dan bahan pangan tahan lama—akan menjadi prioritas distribusi.
Penyesuaian ini juga didukung oleh data survei terbaru, yaitu Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan. Data tersebut menjadi acuan dalam menentukan wilayah‑wilayah yang berhak menerima kebijakan khusus, memastikan intervensi gizi tepat sasaran.
Kebijakan pemotongan hari distribusi MBG ini merupakan bagian dari agenda transformasi struktural pemerintah, yang bertujuan menciptakan ekonomi lebih efisien, produktif, dan tahan terhadap dinamika global. Dengan mengoptimalkan penggunaan anggaran, diharapkan program MBG dapat terus berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi kesehatan dan pendidikan anak Indonesia.










