PSPK – 02 April 2026 | Rangkaian demonstrasi besar-besaran melanda Amerika Serikat pada akhir Maret 2026, menandai salah satu aksi protes terluas sejak Donald Trump kembali menjabat. Lebih dari 8 juta warga dari lebih dari 50 kota—termasuk New York, Washington DC, Los Angeles, Chicago, Houston, dan Seattle—turun ke jalan dengan spanduk bertuliskan “We the People, Not the King”, “Democracy, Not Monarchy”, serta “No Kings”.
Para demonstran menuntut agar Presiden Donald Trump segera dimakzulkan, menudingnya telah mengubah jabatan kepresidenan menjadi kedudukan monarki de facto. Selain itu, aksi tersebut menyoroti penolakan keras terhadap konflik militer yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran, yang dianggap melanggar Konstitusi dan tidak mencerminkan keinginan rakyat.
Slogan dan Tuntutan Utama
- “We the People, Not the King” – menegaskan kedaulatan rakyat.
- “Democracy, Not Monarchy” – menolak gagasan kepemimpinan otoriter.
- “Hands off Iran” – menolak intervensi militer AS di Iran.
- “No New U.S. War in the Middle East” – menolak perang baru di Timur Tengah.
Permintaan Khusus terkait Iran
- Penghentian total agresi militer oleh Amerika Serikat dan sekutunya.
- Jaminan tidak akan ada konflik serupa di masa mendatang.
- Kompensasi finansial dan reparasi atas kerusakan yang ditimbulkan.
- Pembebasan semua kelompok proksi yang terlibat di wilayah Timur Tengah.
- Pengakuan hak kedaulatan Iran, termasuk hak nuklir yang sah.
Keluhan ekonomi juga menjadi pendorong utama demonstrasi. Kenaikan harga minyak global, beban biaya hidup yang semakin berat, serta kebijakan imigrasi yang dianggap keras memperburuk kepuasan publik terhadap pemerintahan Trump, menurunkan indeks kepuasan ke level terendah dalam sejarah kepresidenannya.
Para aktivis mengingatkan bahwa kehilangan kendali atas Selat Hormuz oleh Amerika dapat menimbulkan konsekuensi geopolitik yang serupa dengan krisis Terusan Suez 1956, mengancam aliran perdagangan energi dunia.
Jika gelombang protes ini terus berkembang, analis memperkirakan dampak politik yang signifikan, termasuk tekanan intensif di Kongres untuk memulai proses pemakzulan. Sejauh ini, belum ada langkah resmi dari lembaga legislatif, namun suara rakyat yang semakin keras menambah beban politik bagi administrasi Trump.










